Pada 25 Februari 2025, Presiden Ad Interim Suriah Ahmed Al-Sharaa meluncurkanKonferensi Dialog Nasional (KDN) sebagai upaya untuk membangun ulang Suriah setelah meruntuhkan rezim Bashar Al-Assad dalam perang saudara yang berlangsung selama 14 tahun. KDN diselenggarakan di Istana Kepresidenan Suriah di Damaskus dan dihadiri oleh 600 tokoh yang diundang oleh Presiden Ad Interim Ahmed Al-Sharaa. Dalam pidato pembukaan KDN, Presiden Ad Interim Ahmed Al-Sharaa menyampaikan bahwa Suriah harus membangun ulang sendiri setelah bersusah payah membebaskan dirinya dari cengkraman rezim Bashar Al-Assad. Presiden Ad Interim Al-Sharaa menambahkan bahwa KDN merupakan kesempatan langkadalam sejarah yang harus digunakan semaksimal mungkin untuk mencapai kepentingan bersama serta menghormati pengorbanan yang telah dilakukan para revolusioner.
Tujuan utama dari KDN adalah untuk memberikan rekomendasi yang tidak mengikat tentang berbagai hal seperti hukum transisi, ekonomi, dan dasar konstitusi baru untuk menjadi pertimbangan bagi pemerintahan baru yang akan dilantik pada 1 Maret 2025. Untuk memberikan rekomendasi tersebut, para undangan yang menghadiri KDN akan berdiskusi dengan hasil akhir pernyataan bersama sebagai acuan bagi masa depan Suriah pasca runtuhnya rezim Assad. Dalam pernyataan bersama tersebut, para partisipan KDN sepakat bahwa pemerintah Suriah perlu membentuk sebuah komite untuk merancang sebuah konstitusi yang mengakomodasi nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan kesetaraan untuk seluruh warga negara Suriah. Pernyataan bersama tersebut juga menekankan pentingnya mempertahankan kebebasan berekspresi yang telah diperjuangkan oleh para martir yang tewas dalam revolusi. Selain itu pernyataan bersama KDN mengecam keberadaan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebagai aksi yang melanggar kedaulatan Suriah dan menuntut Israel untuk segera menarik pasukan mereka tanpa persyaratan.
Walaupun KDN Suriah dihadiri oleh 600 undangan dari berbagai kelompok, terdapat skeptisisme dan kekhawatiran yang disampaikan berbagai kelompok. Partai politik di Administrasi Otonom Utara dan Timur Suriah (AANES) menyatakan bahwa perwakilan kelompok minoritas Suriah dalam konferensi tersebut terlalu kecil sehingga hasil akhirnya tidak berarti. Selanjutnya Jurnalis Suriah Hussam Hammuoud menyatakan dalam media sosial X/Twitter bahwa rekomendasi yang diberikan oleh KDN tidak memenuhi harapan masyarakat Suriah. Hammoud juga mengkritisi koordinasi buruk panitia penyelenggara KDN sehingga mereka tidak bisa mengundang tokoh revolusioner penting seperti Burhan Ghalioun dan George Sabra.