Perdana Menteri Prancis Bayrou Tuai Kritik dengan Pernyataan Sayap Kanan soal “Banjir” Migran
Perdana Menteri Prancis François Bayrou memicu kontroversi setelah menyatakan bahwa tingkat imigrasi di Prancis menciptakan perasaan seperti sedang “dibanjiri,” menggunakan istilah yang sering dipromosikan oleh kelompok sayap kanan ekstrem. Saat di-interview di LCI. Ia menambahkan bahwa kontribusi asing positif selama tetap dalam proporsi yang wajar, tetapi saat perasaan “dibanjiri” muncul, ada penolakan terhadap perubahan yang terjadi di negara tersebut. Pernyataannya tampaknya ditujukan untuk menarik dukungan dari National Rally (RN), partai sayap kanan ekstrem, yang memiliki pengaruh besar terhadap kelangsungan politik Bayrou, terutama menjelang pengajuan rancangan anggaran 2025.
Pernyataan Bayrou segera mendapat kritik keras dari kubu kiri. Anggota parlemen Sosialis, Arthur Delaporte, menyebut komentar tersebut sebagai bentuk “xenofobia,” dan banyak pihak dari sayap kiri menilai bahwa pernyataan tersebut tidak sesuai dengan realitas imigrasi yang ada. Bahkan, pemimpin partai sayap kiri radikal France Unbowed, Manuel Bompard, menyebut pernyataan Bayrou “sangat mengejutkan” dan bertentangan dengan data statistik imigrasi yang ada. Kritik juga datang dari dalam koalisinya sendiri, dengan Ketua Majelis Nasional Yael Braun-Pivet yang menyatakan malu atas pernyataan Bayrou, meskipun ia sepakat bahwa imigrasi perlu diatur dengan tegas.
Meskipun gagasan tentang “banjir migran” telah ada sejak abad ke-19 dan berkembang menjadi teori “Penggantian Besar” yang dipopulerkan oleh kelompok sayap kanan ekstrem, data menunjukkan bahwa persentase imigran di Prancis hanya meningkat sedikit dalam lima dekade terakhir. Pada 2023, imigran hanya membentuk 10,7 persen dari populasi Prancis, sebuah peningkatan yang relatif kecil dibandingkan dengan 50 tahun lalu. Sementara itu, politisi dari National Rally menyambut baik pernyataan Bayrou dan merasa bahwa pemerintah akhirnya mulai mengakui masalah imigrasi. Pernyataan ini menggambarkan ketegangan politik yang terjadi di Prancis mengenai kebijakan imigrasi, dengan pandangan yang sangat berbeda antara pihak-pihak yang terlibat.