Junta Myanmar Bebaskan Lebih dari 6.000 Tahanan, Aktivis Politik Tetap di Balik Jeruji Besi
Pemerintah militer Myanmar mengumumkan pembebasan lebih dari 6.100 tahanan pada 4 Januari 2026, dalam amnesti besar-besaran yang diberlakukan untuk memperingati 78 tahun Hari Kemerdekaan negara itu dari penjajahan Inggris. Pembebasan ini terjadi saat negara sedang melangsungkan pemilu tiga tahap yang menuai kritik luas sebagai usaha memberi legitimasi bagi rezim militer.
Amnesti massal ini terjadi beberapa hari setelah dimulainya putaran pertama pemilu nasional, sejak kudeta militer Februari 2021. Para pemimpin militer mengatakan pemilu ini akan membawa demokrasi. Namun, banyak pihak, termasuk organisasi internasional dan pengamat pemilu, menyebut pemilu tersebut sebagai “pencitraan legitimasi rezim” karena sejumlah besar partai oposisi, terutama yang anti-junta, dilarang ikut serta. Aktivis hak asasi manusia dan diplomat Barat juga mengecam pemilu ini. Mereka menyebutnya sebagai pemilu palsu dan hanya cara baru untuk melanjutkan kekuasaan militer. Pada tahap pertama pemilu, Partai Union Solidarity and Development Party (USDP), yang pro-militer, menunjukkan hasil yang unggul jauh.
Sementara pemerintah menyatakan amnesti ini diberikan atas dasar kemanusiaan, masih belum jelas seberapa banyak tahanan yang dibebaskan merupakan tahanan politik. Amnesti ini dikritik sebagai tindakan kosong, dimana hanya sebagian kecil dari mereka yang dibebaskan adalah tahanan politik. Laporan dari beberapa sumber menyatakan hanya sedikit tahanan politik yang dibebaskan. Sebagian dari mereka yang dibebaskan mengaku ditahan atas kasus non-politik, seperti narkoba, pencurian, dan pelanggaran ringan lainnya, sementara tokoh pro-demokrasi seperti Aung San Suu Kyi tetap dipenjara.
Menanggapi perkembangan Myanmar, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubiomendesak militer Myanmar untuk segera menghentikan kekerasan, membuka akses kemanusiaan tanpa hambatan, membebaskan mereka yang ditahan secara tidak adil, serta memulai dialog guna mengakhiri krisis secara damai. Namun, skeptisisme tetap tinggi karena amnesti tahunan yang sering kali hanya mencakup warga biasa dan bukan kecaman terhadap tindakan politik rezim.