Pemerintah China meminta Jepang melakukan evaluasi terhadap pernyataan dan kebijakan sejumlah pemimpinnya terkait isu Taiwan. Beijing menilai sikap Tokyo mengenai kemungkinan keterlibatan Jepang dalam konflik di sekitar Taiwan telah memperburuk hubungan bilateral kedua negara yang sebelumnya berupaya menjaga stabilitas diplomatik.
Seruan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri China Wang Yi saat bertemu dengan Takeshi Iwaya, Ketua Japan Association for the Promotion of International Trade (JAPIT), di Beijing pada 28 September 2026. Wang menyebut hubungan China-Jepang sedang menghadapi kondisi yang serius dan meminta Tokyo segera memperbaiki pernyataan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip hubungan kedua negara.
Menurut Kementerian Luar Negeri China, Beijing juga mengingatkan Jepang agar tetap berpegang pada konstitusi pascaperang yang membatasi penggunaan kekuatan militer serta mempertimbangkan kembali isu-isu sejarah yang selama ini menjadi perhatian dalam hubungan kedua negara.
Ketegangan terbaru dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyebut kemungkinan konflik di Taiwan dapat menjadi kondisi yang mengancam keberlangsungan Jepang. Pernyataan tersebut membuka kemungkinan Tokyo menggunakan hak pertahanan kolektif apabila terjadi situasi tertentu. China kemudian menyampaikan keberatan karena menganggap isu Taiwan merupakan persoalan sensitif yang berkaitan dengan kepentingan nasionalnya.
Pemerintah Jepang menyatakan kebijakan dasarnya mengenai Taiwan tidak berubah. Namun, Tokyo tetap menegaskan bahwa setiap respons keamanan akan mempertimbangkan perkembangan situasi dan informasi yang tersedia.
Selain isu Taiwan, hubungan China-Jepang juga dipengaruhi dinamika keamanan kawasan, termasuk keberadaan sistem rudal Amerika Serikat di wilayah Jepang. Beijing sebelumnya telah menyatakan keberatan terhadap peningkatan kerja sama militer AS-Jepang yang dinilai dapat memperburuk ketegangan regional.
Meski menghadapi perbedaan politik dan keamanan, China dan Jepang tetap memiliki hubungan ekonomi yang besar. Kedua negara juga akan memasuki momentum peringatan 55 tahun normalisasi hubungan diplomatik pada tahun mendatang, sehingga upaya menjaga komunikasi menjadi faktor penting dalam mengelola perselisihan yang berkembang.