Jepang Akan Bentuk Sistem Baru Untuk Pengembangan Startup Pertahanan
Pada 27 September 2026, Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang Shinjiro Koizumi mengumumkan bahwa kementeriannya akan membentuk sebuah sistem kontrak baru untuk mendukung startup pertahanan yang ingin mengembangkan kendaraan nirawak udara (UAV). Dalam sistem kontrak baru ini, Kemhan Jepang akan diberikan kewenangan untuk melakukan pengawasan dan pembayaran berkala terhadap perusahaan yang terlibat dalam proses perencanaan, riset, dan demonstrasi prototipe produk. Sistem kontrak baru ini secara garis besar merupakan modifikasi dari sistem Small Business Innovation and Research (SBIR) yang digunakan oleh Kemendagri dan Kemenkes Jepang dalam melaksanakan program serupa. Dilansir dari The Japan Times, Kemhan Jepang berharap sistem ini dapat meningkatkan integrasi teknologi tinggi buatan industri dalam negeri, mempercepat produksi komponen kegunaan ganda, dan meringankan beban finansial yang dihadapi para startup.
Selain mengembangkan sistem kontrak baru, Kemhan Jepang juga akan mendorong pembuatan badan baru yang akan diberikan tugas untuk memberikan investasi produksi serta dana hibah riset kepada perusahaan dan startup yang ingin terlibat dalam proses tersebut. Dilansir dari Nikkei Asia, badan baru ini juga akan memiliki tugas mirip dengan program Foreign Military Sales Amerika Serikat yang mana mereka akan membantu industri pertahanan Jepang dalam modifiksi bagian dan komponen persenjataan yang akan diekspor. Selain itu, badan ini juga memiliki tugas untuk menjaga kapasitas produksi startup dalam waktu damai agar mereka dapat ditingkatkan secara pesat dalam waktu perang atau darurat nasional. Beberapa hari setelah pengumuman tersebut diberikan, sebuah startup pertahanan Inggris Raya dengan nama Cambridge Aerospace menyampaikan keinginan mereka untuk berpartisipasi dan membangun pabrik guna memproduksi drone pencegat di wilayah Jepang. Selain drone pencegat, Cambridge Aerospace juga ingin menunjukkan kemampuan rudal Skyhammer yang diklaim mampu mencegat drone kamikaze tipe Shahed-136 dan memiliki harga relatif murah karena menggunakan komponen kegunaan ganda dalam proses produksi.
Pengembangan sistem ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Jepang untuk membangun ulang ekosistem industri pertahanan yang telah mengalami pengurangan partisipasi startup dalam dua dekade. Untuk mencapai upaya ini, pemerintah Jepang telah memasukkan revitalisasi ini sebagai prioritas dalam pengajuan anggaran pertahanan untuk tahun fiskal 2027 yang secara keseluruhan mencakup USD 55,7 miliar hingga USD 62,6 miliar. Berdasarkan informasi yang ada, sebagian dari anggaran yang diajukan akan dialokasikan untuk mencapai upaya revitalisasi industri pertahanan dengan melakukan reformasi struktural terhadap tata kelola keuangan dan kapasitas produksi industri manufaktur Jepang.