Pada 30 Juni 2026, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan di media sosial Telegram bahwa mereka telah menandatangani kontrak pembelian 16 pesawat tempur multiguna JAS-39E Gripen dari Swedia. Zelenskyy menambahkan kontrak pembelian ini akan mencakup bantuan dari berbagai aspek yang dapat mempertahankan kesiapan operasional pesawat dalam kondisi perang seperti perbaikan berkala, bantuan teknis, dan transfer teknologi. Selanjutnya, Zelenskyy menyatakan bahwa dia akan bertemu dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Swedia Pal Jonson untuk mendiskusikan implementasi kontrak Gripen serta potensi kerja sama pertahanan antara kedua negara yang mencakup upaya anti drone dan rudal balistik. Selain itu, Zelenskyy menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Swedia atas dukungan yang telah mereka berikan kepada Ukraina sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada 24 Februari 2022.
Menanggapi perkembangan tersebut, CEO SAAB Micael Johansson menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa dia bangga produknya akan digunakan oleh Ukraina untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya dari serangan Rusia. Micael menambahkan bahwa JAS-39E Gripen merupakan pesawat tempur kelas dunia yang memiliki kemampuan untuk melancarkan beberapa misi sekaligus. Micael yakin kapabilitas ini akan meningkatkan efektivitas dari sistem pertahanan udara terintegrasi (IADS) Ukraina dalam menjaga rakyat, infrastruktur, dan fasilitas penting dari serangan drone kamikaze dan rudal balistik Rusia. Sementara itu Menhan Swedia Pal Jonson menyatakan di media sosial X/Twitter bahwa kontrak pembelian Gripen merupakan perjanjian yang melengkapi komitmen hibah pesawat Gripen varian C/D. Menhan Pal menambahkan bahwa perjanjian ini merupakan langkah pertama dari ambisi Angkatan Udara Ukraina (UAF) yang ingin mengoperasikan sekitar 150 pesawat tempur Gripen E.
Pembelian dan hibah pesawat tempur JAS-39 Gripen merupakan bagian dari upaya keseluruhan UAF untuk memperkuat kapabilitas mereka untuk menghadapi serangan udara Rusia sekaligus melancarkan serangan strategis terhadap instalasi militer musuh. Hal ini merupakan langkah baik menurut pakar pertahanan udara seperti Justin Bronk dari Royal United Services Institute (RUSI) karena Gripen mampu beroperasi di medan tempur tangguh. Ketangguhan ini juga diperkuat dengan kapabilitas yang cukup mengesankan karena selain dilengkapi dengan radar AESA dan sensor canggih, pesawat tempur ini juga dapat mengangkut berbagai tipe rudal anti-udara, anti-darat, anti-radar, dan anti-kapal.