Diplomasi China kembali menjadi perhatian dunia setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi dijadwalkan menghadiri pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York sebelum melanjutkan kunjungan resmi ke Kanada. Berdasarkan pernyataan resmi Ministry of Foreign Affairs of the People’s Republic of China, Wang Yi direncanakan memimpin delegasi China dalam agenda Dewan Keamanan PBB pada akhir Mei 2026, kemudian melanjutkan lawatan diplomatik ke Kanada beberapa hari setelahnya. Meskipun agenda tersebut belum berlangsung, rencana kunjungan ini menjadi menarik karena bagian dari strategi diplomasi global China yang semakin aktif di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Dalam beberapa tahun terakhir, China tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan ekonomi dan modernisasi militer untuk memperluas pengaruh internasionalnya. Beijing juga semakin aktif memperkuat diplomasi multilateral, membangun jaringan kerja sama global, serta meningkatkan keterlibatan dalam institusi internasional. Langkah tersebut menunjukkan bahwa China berusaha menampilkan diri sebagai kekuatan global yang tidak hanya memiliki kapasitas ekonomi besar, tetapi juga kemampuan memengaruhi arah tata kelola internasional.
Dilihat rencana kehadiran Wang Yi dalam forum Dewan Keamanan PBB memiliki makna strategis penting. Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan, China ingin memperkuat citranya sebagai aktor utama dalam penyelesaian berbagai isu internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing semakin aktif terlibat dalam pembahasan isu perang Ukraina, konflik Timur Tengah, reformasi tata kelola global, hingga pembangunan negara-negara Global South. Data United Nations Security Council menunjukkan bahwa China terus memperluas peran diplomatiknya dalam berbagai forum PBB sebagai bagian dari strategi memperkuat legitimasi internasionalnya.
Akan tetapi di sisi lain, peningkatan aktivitas diplomasi China juga memunculkan kekhawatiran di kalangan negara-negara Barat. Laporan U.S. Department of Defense menjelaskan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya menilai Beijing tidak sekadar memanfaatkan forum internasional untuk memperkuat kerja sama global, tetapi juga untuk memperluas pengaruh politik dan menantang dominasi Barat dalam sistem internasional. Persaingan tersebut terlihat jelas dalam berbagai isu seperti Taiwan, Laut China Selatan, teknologi strategis, hak asasi manusia, dan keamanan Indo-Pasifik.
Setelah agenda di New York, Wang Yi juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke Kanada. Rencana ini menjadi penting karena hubungan China-Kanada mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Ketegangan kedua negara meningkat sejak kasus penahanan eksekutif Huawei, Meng Wanzhou, di Kanada pada 2018 atas permintaan Amerika Serikat. Sebagai respons, China menahan dua warga Kanada dalam kasus yang kemudian memicu krisis diplomatik berkepanjangan antara kedua negara.
Selain kasus Huawei, hubungan bilateral juga dipengaruhi isu keamanan teknologi, tuduhan campur tangan asing, serta meningkatnya sensitivitas geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah Kanada dalam beberapa tahun terakhir mulai memperketat pengawasan investasi China di sektor strategis dan meningkatkan pembatasan terhadap teknologi tertentu yang dianggap berisiko bagi keamanan nasional. Dalam konteks tersebut, rencana kunjungan Wang Yi ke Kanada dapat dipahami sebagai upaya Beijing membuka kembali ruang dialog dengan negara-negara Barat menengah (middle powers) di tengah meningkatnya rivalitas global dengan Washington. China tampaknya menyadari bahwa menjaga hubungan yang relatif stabil dengan negara seperti Kanada dapat membantu mengurangi tekanan diplomatik yang semakin berkembang di lingkungan Barat.
Jika dilihat dari sudut pandang soft power, bisa dikatakan bahwa kekuatan negara tidak hanya bersumber dari kekuatan militer dan ekonomi (hard power), tetapi juga dari kemampuan memengaruhi negara lain melalui diplomasi, citra internasional, institusi global, dan daya tarik politik. Dalam perspektif ini, diplomasi aktif merupakan instrumen penting dalam membangun legitimasi dan pengaruh internasional. Melalui pendekatan tersebut, China tampaknya sedang berupaya memperkuat soft power-nya secara lebih agresif. Beijing memahami bahwa kebangkitan ekonomi saja tidak cukup untuk menjadikan China sebagai kekuatan global dominan. China juga perlu membangun kepercayaan internasional, memperluas pengaruh diplomatik, dan menciptakan citra sebagai negara yang mendukung stabilitas global serta kerja sama multilateral.
Rencana kunjungan Wang Yi ke PBB dan Kanada mencerminkan strategi tersebut. Dalam forum PBB, China diperkirakan akan terus menampilkan diri sebagai pendukung multilateralisme dan reformasi tata kelola internasional yang lebih inklusif. Sementara itu, agenda di Kanada berpotensi menjadi bagian dari upaya memperbaiki hubungan dengan negara-negara Barat di luar lingkar utama rivalitas langsung dengan Amerika Serikat. Strategi diplomasi China sebenarnya telah terlihat melalui berbagai inisiatif internasional lain seperti Belt and Road Initiative (BRI), ekspansi lembaga keuangan internasional China, hingga peningkatan peran Beijing dalam mediasi konflik global. China juga semakin aktif memposisikan diri sebagai mediator diplomatik, termasuk dalam hubungan Iran-Arab Saudi dan isu stabilitas Timur Tengah.
Walaupun demikian, tantangan terbesar bagi China tetap terletak pada persoalan kepercayaan internasional. Banyak negara masih memandang langkah diplomatik Beijing dengan penuh kehati-hatian. Negara-negara Barat menilai bahwa ekspansi diplomasi China sering kali berkaitan dengan upaya memperluas pengaruh ekonomi dan politik secara sistematis, khususnya di negara berkembang. Selain itu, citra internasional China juga masih dipengaruhi berbagai isu domestik dan keamanan regional seperti Xinjiang, Hong Kong, Taiwan, dan aktivitas militer di Laut China Selatan. Akibatnya, meskipun pengaruh ekonomi China terus meningkat, soft power Beijing belum sepenuhnya mampu menyaingi dominasi pengaruh global Barat.
Perubahan struktur geopolitik global memberi China peluang yang semakin besar. Banyak negara berkembang mulai mencari alternatif di luar dominasi Barat dan melihat China sebagai mitra ekonomi penting. Kondisi ini membuka ruang bagi Beijing untuk memperluas pengaruh diplomatiknya melalui kerja sama ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan pendekatan multilateral. Apabila agenda Wang Yi berjalan dengan baik, maka kunjungan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang China untuk memperkuat posisinya dalam sistem internasional yang semakin multipolar. Beijing tampaknya ingin menunjukkan bahwa China bukan hanya pesaing ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga kekuatan global yang memiliki kapasitas memengaruhi arah diplomasi internasional.
Secara keseluruhan, rencana kunjungan Wang Yi ke PBB dan Kanada memperlihatkan bagaimana China semakin aktif mengombinasikan kekuatan ekonomi, diplomasi, dan pengaruh politik global dalam satu strategi besar. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi akibat rivalitas geopolitik, diplomasi menjadi instrumen penting dalam perebutan pengaruh internasional. Dalam hal tersebut, China tampaknya berupaya memastikan bahwa kebangkitannya tidak hanya terlihat melalui kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga melalui kemampuan membangun legitimasi dan kepemimpinan diplomatik di tingkat global.