Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (16/12/2025) memerintahkan pemblokiran penuh terhadap seluruh kapal tanker minyak yang keluar dan masuk Venezuela yang tercantumdalam daftar sanksi AS.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa langkah tersebut diambil karena dugaan pencurian aset AS serta berbagai tuduhan lain, termasuk terorisme, penyelundupan narkoba, dan perdagangan manusia. Ia menegaskan bahwa pemerintah Venezuela telah ditetapkan sebagai organisasi teroris asing, sehingga AS memberlakukan blokade total terhadap kapal tanker minyak yang terkait dengan negara tersebut.
Kebijakan ini diperkirakan memperburuk hubungan antara Washington dan Caracas. Dampaknya langsung terasa di pasar global, di mana harga minyak melonjak tajam pada Rabu, memicu ketegangan geopolitik baru di tengah kekhawatiran terhadap permintaan energi.
Minyak mentah Brent tercatat naik 57 sen atau 0,9% menjadi US$59,50 per barel pada pukul01.35 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 59 senatau 1% ke level US$55,86 per barel.
Secara tidak langsung, embargo tersebut dinilai telah berlangsung sejak pekan lalu, ketika AS menyita sebuah kapal tanker minyak yang terkena sanksi di perairan lepas pantai Venezuela. Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dalam pidatonya Selasa malam, menuduh AS berupaya menguasai sumber daya alam negaranya.
Maduro menyatakan bahwa apa yang ia sebut sebagai imperialisme dan kelompok sayap kananfasis berambisi menjajah Venezuela demi mengendalikan cadangan minyak, gas, emas, dan mineral lainnya. Ia menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan negara dan menyatakan bahwa perdamaian akan tetap terjaga di Venezuela.
Ia juga menuding pengerahan kekuatan militer AS di kawasan sebagai upaya menggulingkan pemerintahannya serta merebut sumber daya minyak Venezuela, yang merupakan anggota OPEC dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.
Di sisi lain, harga minyak mentah berat Merey—komoditas utama ekspor Venezuela ke China—mengalami pelebaran diskon hingga US$21 per barel di bawah harga acuan Brent, dibandingkan dengan diskon US$14–15 per barel pada pekan sebelumnya. Informasi ini disampaikan kepadaReuters oleh dua pedagang dan satu sumber perusahaan yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Pelebaran diskon tersebut sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya biaya “klausa perang” yang dibebankan pemilik kapal, guna mengantisipasi risiko pencegatan, penundaan, atau perubahan rute akibat keberadaan militer AS yang terus berlangsung di kawasan Karibia.
Sepanjang tahun ini, China menjadi tujuan utama ekspor minyak Venezuela, menyerap sekitar55% hingga 90% dari total pengiriman bulanan—naik dibandingkan porsi 40%–60% pada tahun sebelumnya. Pada November, Venezuela mengekspor sekitar 952.000 barel per hari, dengan sekitar 778.000 barel per hari dikirim ke China, berdasarkan data pelacakan kapal.
Para analis memperingatkan bahwa pasokan minyak Venezuela ke China berpotensi menurun pada Februari mendatang apabila kapal-kapal tanker yang saat ini sudah bermuatan dan tertahan di perairan Venezuela tidak dapat berlayar.
AS dipandang telah berupaya memutus sumber pendapatan utama pemerintahan Maduro, yang sangat bergantung pada ekspor minyak untuk membiayai belanja negara.