Pada 16 Desember 2025 Kementerian Pertahanan Nasional (Kemhanas) Taiwan menyatakan kepada Parlemen Taiwan (Yuan Legislatif) bahwa militer Negeri Formosa memiliki kemampuan memadai untuk menghadapi serangan dadakan dari China. Dalam penjelasan yang diberikan, Kemhanas Taiwan menyatakan bahwa jika serangan dadakan terjadi setiap unit Angkatan Bersenjata Taiwan (ROCA) diberikan wewenang untuk beroperasi secara otonom. Dalam hal ini, jika Taiwan menghadapi serangan mendadak dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), seluruh unit ROCA dapat melancarkan serangan balik tanpa harus menunggu perintah dari markas besar (mabes) atau Kemhanas Taiwan. Sistem komando ini diimplementasikan oleh Kemhanas Taiwan karena mereka menganggap terdapat kemungkinan China akan menggunakan latihan militer rutin di Selat Taiwan sebagai kamuflase terhadap upaya invasi.
Selain mengubah struktur komando ROCA, Kemhanas Taiwan juga telah menetapkan sebuah mekanisme yang dapat meningkatkan kesiapan tempur militer Negeri Formosa jika terdapat tanda China akan melakukan aksi agresif. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pertahanan (Kemhan) China mengklaim pemerintahan Presiden Taiwan Lai Ching-te sedang membesar-besarkan ancaman dari Negeri Tirai Bambu. Kemhan China juga menyatakan bahwa pemerintahan Presiden Lai meningkatkan kecemasan masyarakat Taiwan terhadap potensi terjadinya perang dengan Negeri Tirai Bambu menggunakan pernyataan provokatif. Selain itu Kemhan China juga mendorong masyarakat Taiwan untuk menyikapi upaya persiapan perang yang dilakukan oleh Presiden Lai secara bijak. Kemhanas China mengklaim upaya ekstrim tersebut dapat memberikan dampak yang merugikan bagi masyarakat Taiwan. Merespon hal tersebut, Taiwan menyatakan hanya masyarakat mereka yang dapat menentukan masa depan Negeri Formosa.
Sejak awal 2025, China telah melancarkan latihan perang gabungan dan patroli maritim di sekitar perairan Taiwan dengan skala cukup besar secara rutin setiap hari. Seluruh aksi tersebut dianggap oleh Taiwan sebagai taktik zona abu-abu (grey zone tactics) yang memiliki tujuan untuk menggerus kesiapan operasional ROCA. Akan tetapi pada tahun ini cakupan aktivitas tersebut diperluas oleh China ke Samudra Pasifik dengan mengirimkan kapal perang menuju Australia dan Selandia Baru. Kemhanas Taiwan mengingatkan bahwa latihan perang yang dilakukan oleh China tidak bersifat simbolis karena terdapat penekanan untuk melakukan operasi bersama (joint operations) dengan kondisi tempur nyata.