Persaingan Amerika Serikat dan China kini tidak lagi terbatas pada keunggulan ekonomi dan teknologi, tetapi juga menyentuh kemampuan masing-masing negara mempertahankan pengaruh dan menentukan arah politik internasional. Hubungan China dengan Iran menjadi salah satu arena yang memperlihatkan batas tekanan Washington terhadap Beijing. Penolakan China terhadap tuntutan Amerika Serikat untuk memutus hubungan ekonomi dengan Iran menunjukkan bahwa Beijing mempertahankan kewenangan untuk menentukan sendiri kebijakan luar negerinya. Pada 21 Agustus 2026, Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa sanksi dan tekanan bukan solusi serta menyerukan penyelesaian melalui jalur politik dan diplomatik. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dan mendorong China untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Realisme menjelaskan sikap Beijing melalui kepentingan nasional dan otonomi kebijakan luar negeri. Teori ini memandang negara sebagai aktor yang mengejar kepentingan nasional dan keamanan di tengah sistem internasional yang tidak memiliki otoritas tertinggi di atas negara. Hans J. Morgenthau menempatkan kepentingan dan kekuasaan sebagai unsur utama dalam politik internasional (Morgenthau, 1948). Dalam kerangka tersebut, menerima tuntutan Washington untuk menghentikan kerja sama dengan Iran bukan sekadar keputusan ekonomi bagi China, tetapi juga dapat memperluas pengaruh Amerika Serikat terhadap pilihan strategis Beijing.
Logika tersebut berkaitan dengan konsep balance of power. Kenneth Waltz menjelaskan bahwa negara dalam sistem internasional cenderung menyesuaikan perilakunya untuk mencegah ketergantungan berlebihan pada satu kekuatan dominan (Waltz, 1979). China tidak perlu menjadikan Iran sebagai sekutu untuk menjalankan logika tersebut. Mempertahankan hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Teheran sudah memberi Beijing alternatif dalam menghadapi tekanan Washington. Dengan demikian, hubungan dengan Iran memiliki arti strategis karena mempertahankan pilihan kebijakan China di tengah struktur kekuatan yang masih sangat dipengaruhi Amerika Serikat.
Kepentingan energi membuat hubungan tersebut memiliki dasar material yang kuat. China merupakan mitra dagang terbesar Iran dan pada 2025 mencatat perdagangan bilateral sekitar 9,96 miliar dolar Amerika Serikat. Angka tersebut belum memasukkan estimasi sekitar 31,2 miliar dolar Amerika Serikat dari ekspor minyak mentah Iran yang tidak tercatat dalam statistik resmi. Jika estimasi tersebut turut diperhitungkan, nilai hubungan perdagangan kedua negara mencapai sekitar 41,2 miliar dolar Amerika Serikat. China juga mengimpor hampir 1,4 juta barel minyak Iran per hari pada 2025, setara sekitar 12 persen dari total impor minyak mentah China (United States-China Economic and Security Review Commission, 2026).
Kepentingan tersebut menjelaskan mengapa sanksi digunakan Washington sebagai instrumen untuk menekan Iran. David A. Baldwin menunjukkan bahwa hubungan ekonomi dapat digunakan untuk memengaruhi perilaku negara lain, bukan hanya untuk memperoleh keuntungan perdagangan (Baldwin, 1985). Sanksi meningkatkan biaya hubungan ekonomi dengan negara sasaran agar negara tersebut terdorong mengubah perilakunya. Efektivitas strategi itu menjadi lebih terbatas ketika negara sasaran memiliki mitra ekonomi besar yang tetap memiliki kepentingan terhadap perdagangan dan pasokan energinya.
Besarnya peran China sebagai pembeli minyak Iran menjadi salah satu kendala utama bagi strategi tersebut. Reuters melaporkan bahwa China menyerap lebih dari 80 persen minyak Iran yang dikapalkan pada 2025. Pembelian tersebut terutama dilakukan oleh penyuling independen China yang tertarik pada harga minyak Iran yang lebih rendah. Sebagian transaksi berlangsung melalui jaringan perdagangan dan mekanisme pembayaran yang mengurangi paparan terhadap sistem keuangan Amerika Serikat. Kondisi ini membuat tekanan Washington tidak otomatis menghentikan arus minyak Iran ke pasar China (Reuters, 2026).
Namun, kepentingan Beijing tidak hanya berada di Iran. China juga memiliki hubungan ekonomi yang sangat besar dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pada 2025, nilai perdagangan dua arah China dengan masing-masing negara tersebut mencapai sekitar 108 miliar dolar Amerika Serikat, jauh melampaui nilai perdagangan China-Iran yang mencapai sekitar 41,2 miliar dolar Amerika Serikat jika estimasi minyak yang tidak tercatat turut diperhitungkan. Besarnya hubungan ekonomi tersebut membuat Beijing memiliki kepentingan untuk mempertahankan hubungan dengan Iran tanpa mengorbankan hubungan dengan negara-negara Arab Teluk. (United States-China Economic and Security Review Commission, 2026).
Tekanan Amerika Serikat tetap memengaruhi kemampuan China mempertahankan pasokan minyak Iran. Reuters mencatat pengiriman minyak Iran ke China turun dari sekitar 823 ribu barel per hari pada Juli menjadi 534 ribu barel per hari pada Agustus 2026. Penurunan tersebut terjadi di tengah blokade dan gangguan terhadap pengiriman minyak Iran sehingga sejumlah penyuling China mulai mencari pasokan alternatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan Washington, terutama ketika disertai gangguan terhadap jalur pengiriman, dapat memengaruhi arus minyak Iran ke China, meskipun belum menghentikan pembelian China sepenuhnya (Reuters, 2026).
Hubungan China-Iran memperlihatkan batas sekaligus kemampuan tekanan ekonomi Amerika Serikat. Washington masih dapat meningkatkan biaya perdagangan dan mengganggu pasokan minyak Iran ke China, tetapi tekanan tersebut belum mampu memaksa Beijing menghentikan hubungan ekonominya dengan Teheran. Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan Amerika Serikat dan China semakin bergerak ke wilayah geoeconomic power, ketika kemampuan menggunakan perdagangan, energi, keuangan, dan sanksi menjadi bagian dari perebutan pengaruh dalam sistem internasional.