China meminta Uni Eropa (UE) menghindari konflik dagang dan menyelesaikan perbedaan perdagangan melalui dialog. Seruan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul pada Senin (21/9/2026).
Menurut Kementerian Luar Negeri China yang dikutip Reuters, Wang menilai China dan UE merupakan mitra strategis sehingga hubungan ekonomi kedua pihak perlu dijaga melalui kerja sama yang saling menguntungkan. China juga meminta Jerman mengambil pendekatan yang rasional serta mendorong perdagangan bebas di lingkungan UE.
Dorongan tersebut muncul ketika hubungan dagang China dan Eropa menghadapi tekanan akibat perbedaan pandangan mengenai keseimbangan perdagangan. UE menyoroti meningkatnya ekspor produk China serta kekhawatiran terhadap industrial overcapacity atau kapasitas produksi industri yang dianggap melebihi kebutuhan pasar.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah kendaraan energi baru dan baterai. UE sebelumnya meminta China membatasi secara sukarela ekspor kendaraan hibrida ke pasar Eropa guna mencegah meningkatnya ketegangan perdagangan.
China menolak tudingan bahwa kapasitas industrinya menjadi penyebab ketidakseimbangan perdagangan. Pemerintah Beijing menilai sejumlah kebijakan pembatasan perdagangan dapat mengarah pada protectionism atau proteksionisme.
Data yang dikutip Reuters menyebutkan defisit perdagangan barang UE terhadap China mencapai 360,6 miliar euro pada 2025. Angka tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong perdebatan mengenai hubungan ekonomi kedua pihak.
Selain isu perdagangan, pembicaraan China dan Jerman juga membahas persoalan geopolitik, termasuk Taiwan, Ukraina, dan Iran. Namun, fokus utama hubungan China–Eropa saat ini tetap berada pada upaya menjaga stabilitas ekonomi dan mencari penyelesaian atas perbedaan perdagangan melalui mekanisme dialog.