Pada 2 Maret 2026, Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan sebuah pidato dalam acara peluncuran kapal selam bertenaga nuklir dan rudal balistik (SSBN) Le Temeraire di Pangkalan Angkatan Laut Ile Longue, Kota Crozon, wilayah Brittany. Dalam pidato tersebut, Presiden Macron menyatakan bahwa Prancis akan meningkatkan jumlah persenjataan nuklir nya berdasarkan kebijakan advanced deterrence. Dalam kebijakan ini, persenjataan nuklir yang diproduksi oleh Prancis dapat ditempatkan di wilayah negara Uni Eropa (EU) untuk melindungi mereka dari ancaman agresi. Untuk mendorong negara EU menyetujui gagasan ini, Prancis telah membentuk sebuah forum diskusi antara enam negara anggota yang tertarik untuk berpartisipasi dalam kebijakan ini.
Menanggapi perkembangan tersebut, analis senior think tank GLOBSEC, Tomas Nagy menyatakan kepada Anadolu bahwa kebijakan Macron merupakan salah satu momen paling signifikan sejak berakhirnya perang dingin. Nagy menambahkan bahwa perubahan postur nuklir Prancis didorong oleh invasi Rusia terhadap Ukraina, ancaman serangan nuklir dari Rusia terhadap Eropa, dan kohesi politik Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang melemah. Nagy juga menyatakan bahwa kebijakan ini memberikan peluang bagi Prancis untuk menunjukkan bahwa mereka merupakan negara yang pantas memimpin pertahanan EU. Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Polandia Donald Tusk menyatakan bahwa mereka sedang melakukan diskusi dengan Prancis untuk membahas implementasi nyata dari kebijakan advanced deterrence. Pernyataan serupa juga diberikan oleh Kanselir Jerman Friedrich Merz, namun sang kanselir lebih menekankan partisipasi Militer Jerman (Bundeswehr) dalam latihan nuklir Militer Prancis. Di sisi lain, organisasi Kampanye Internasional Untuk Menghancurkan Senjata Nuklir (ICAN) mengkritisi kebijakan Macron karena mereka menganggap hal tersebut akan menghamburkan anggaran dengan nilai puluhan miliar EUR.
Perubahan kebijakan nuklir Prancis merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk memperbaharui kapabilitas peluncuran hulu ledak tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan berbagai proyek pengembangan yang sedang berlangsung seperti rudal balistik M51, dan rudal penjelajah hipersonik luncuran udara (ALCM) ASN4G. Kedua persenjataan ini diperkirakan akan digunakan secara massal oleh Angkatan Laut Prancis dan Angkatan Udara Prancis pada tahun 2035.