Sejak Rusia melancarkan invasi terhadap Ukraina pada 24 Februari 2022, terdapat pandangan yang diberikan beberapa analis pertahanan seperti Michael Kofman dan Rob Lee bahwa Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO) belum siap menghadapi perang dalam skala serupa. Dalam hal ini, terdapat argumen bahwa industri pertahanan Eropa telah menghadapi stagnasi akibat dari berbagai faktor seperti peace dividend, doktrin tempur yang belum mengalami pembaharuan sejak berakhirnya operasi kontrainsurgensi di Afghanistan, dan kurang pahamnya NATO bahwa drone kecil dapat menjadi force multiplier bagi lawan dengan kekuatan terbatas. Selain itu, para analis juga menganggap NATO kurang mampu melancarkan mobilisasi dan merancang strategi sesuai untuk menghadapi perang erosi (attrition).
Pandangan ini juga diberikan oleh berbagai prajurit dari Angkatan Bersenjata Ukraina (ZSU), khususnya mereka yang telah menjalani latihan militer di negara anggota NATO seperti Inggris, Jerman, dan Polandia. Dalam latihan tersebut, prajurit ZSU menyatakan bahwa prosedur tempur yang diajarkan oleh para instruktur tidak lagi relevan dalam menghadapi skenario perang yang saat ini dihadapi oleh negara mereka. Hal ini dapat dilihat dalam bagaimana instruktur NATO melatih kru tank ZSU dalam bagaimana mereka seharusnya melewati sebuah ladang ranjau. Dalam latihan tersebut, instruktur NATO dari Angkatan Bersenjata Jerman (Bundeswehr) menyatakan bahwa kru ZSU hanya perlu menghindari ladang ranjau karena menurut mereka ladang tersebut hanya akan memiliki luas sebesar 100×200 meter dan ranjau yang ditempatkan dianggap tidak terlalu banyak. Hal ini berbeda dengan realita yang dihadapi di Ukraina yang mana ladang ranjau paling kecil memiliki luas sebesar 500m2 dan ranjau yang ditempatkan cukup beragam untuk menghentikan laju pasukan lapis baja dan infanteri. Selain itu, ladang ranjau tersebut juga selalu diawasi oleh drone sehingga ZSU tidak dapat sepenuhnya menyembunyikan pasukan mereka.
Asumsi yang diberikan oleh analis dan prajurit ZSU pada akhirnya terbukti di latihan bersama Hedgehog 2025 di Estonia. Dalam latihan bersama tersebut, sepuluh operator drone ZSU yang dilengkapi dengan drone FPV berhasil menghancurkan dua batalion NATO dalam satu hari. Operator drone ZSU dapat mencapai hal tersebut karena dua faktor penting. Pertama, pasukan NATO yang ditunjuk sebagai lawan di latihan bersama ini tidak menjalankan ‘protokol anti-drone’ yang telah dilakukan Ukraina seperti kamuflase kendaraan tempur untuk menghindari deteksi, membangun jaring anti-drone di wilayah yang akan menjadi jalur logistik penting, serta memencarkan posisi pasukan agar musuh tidak dapat menghancurkan sebagian besar kekuatan tempur dalam satu serangan. Kedua, sistem pengambilan keputusan tempur di NATO yang belum disesuaikan untuk menghadapi ancaman drone. Dalam hal ini, pasukan NATO memiliki kebiasaan untuk melakukan ‘kompartementalisasi informasi’ yang membatasi akses data terkini kepada unit terkait. Keterbatasan akses ini memperlambat reaksi unit yang terlibat dalam menyerang musuh atau mempertahankan wilayah. Selain itu, kompartemenisasi informasi juga memperlambat koordinasi antara unit terkait yang pada akhirnya dapat memberikan lawan waktu untuk melancarkan serangan balasan atau memperkuat pertahanan mereka. Kekurangan ini digunakan oleh ZSU karena mereka memiliki kill chain efektif. Efektivitas tersebut ada karena ZSU menggunakan sistem manajemen zona pertempuran (BMS) ‘Delta’ untuk mendapatkan informasi terbaru, menganalisa data yang didapatkan menggunakan kecerdasan buatan (AI), mengoordinasikan drone, dan menyerang aset strategis musuh dalam waktu pendek.
Hasil dari latihan ini merupakan pukulan besar bagi NATO karena asumsi yang sebelumnya diberikan oleh analis pertahanan dan personel ZSU memiliki dasar kuat dan telah terbukti. Akan tetapi, latihan ini dapat dianggap sebagai berkah terselubung bagi NATO karena hasil yang diberikan dapat digunakan sebagai petunjuk untuk melakukan reformasi agar mereka mampu menghadapi dinamika perang modern. Akan tetapi, untuk mencapai hal tersebut NATO butuh melakukan beberapa aksi strategis dan fundamental. Aksi pertama yang harus dilakukan ada menyesuaikan strategi dalam skenario perang melawan Rusia. Dalam penyesuaian ini, NATO harus membuat strategi berdasarkan asumsi bahwa perang tersebut akan bersifat attritional dibandingkan manuver. Asumsi ini diperlukan karena latihan bersama Hedgehog 2025 menunjukkan bahwa perang manuver sulit dilakukan karena keberadaan drone memberikan kedua belah pihak kemampuan untuk mengawasi medan pertempuran secara konstan. Setelah merancang strategi, NATO harus menyesuaikan doktrin tempur mereka untuk menghadapi dinamika ancaman drone berdasarkan masukan yang telah didapat dari latihan bersama Hedgehog 2025. Dalam penyesuaian ini, terdapat dua hal yang harus diutamakan yaitu reformasi struktur komando dan pembuatan protokol anti-drone komprehensif. Dalam aspek reformasi struktur komando, NATO perlu meninjau ulang keperluan kompartementalisasi informasi karena dalam perang masa depan, setiap unit yang berada di garis terdepan perlu mendapatkan informasi terkini agar mereka dapat berkoordinasi dengan satuan lain dalam waktu pendek. Sementara itu, dalam hal pembuatan protokol anti-drone komprehensif, NATO perlu mempelajari tindakan yang sudah ada di Ukraina sekaligus menggunakan persenjataan canggih yang mereka miliki seperti Loke, Skyrim, dan MEROPS untuk mengakomodasi sistem pertahanan tersebut.