Korsel–AS Akan Gelar Latihan Militer “Freedom Shield”, Transfer Komando dan Ancaman Nuklir
Korea Selatan dan Amerika Serikat mengumumkan akan menggelar latihan militer bersama bertajuk Freedom Shield pada 9 hingga 19 Maret 2026 sebagai bagian dari latihan tahunan mereka di Semenanjung Korea. Latihan ini dirancang untuk memperkuat kesiapan bersama menghadapi ancaman yang meningkat dari Korea Utara serta mendukung proses transisi komando militer perang kepada Korea Selatan.
Menurut pernyataan resmi kedua militer, latihan ini bersifat defensif, meskipun sering dipandang oleh Pyongyang sebagai latihan persiapan invasi. Freedom Shield meliputi berbagai jenis latihan, termasuk operasi gabungan lintas domain (darat-laut-udara-siber) dan simulasi tempur menggunakan sistem komando terpadu.
Latihan untuk Percepatan Transfer Komando Perang dan Ancaman Nuklir
Salah satu tujuan strategis latihan kali ini adalah memperkuat kesiapan Korea Selatan untuk mengambil alih Wartime Operational Control (OPCON) dari Washington ke Seoul, sebelum berakhirnya masa jabatan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada 2030. Dikutip dari Yonhap News, latihan ini akan dilakukan bersamaan dengan fase terakhir verifikasi “Full Operational Capability (FOC)” yang diharapkan selesai akhir tahun ini sebagai syarat untuk transfer komando. Dalam beberapa sesi, Korea Selatan telah meminta pengurangan latihan di lapangan untuk meredakan ketegangan dengan Korea Utara, meskipun belum semua permintaan disetujui oleh AS.
Selain skenario pertahanan bersama, latihan Freedom Shield juga akan memasukkan skenario terkait pencegahan ancaman nuklir Korea Utara, yang hingga kini terus memperkuat program nuklirnya dan menyatakan penolakan terhadap gagasan denuklirisasi tanpa konsesi bagi rezimnya. Latihan ini diperkirakan akan mengikutsertakan ribuan personel gabungan serta simulasi war room yang melibatkan sistem komando AS dan Korea Selatan. Komponen lapangan yang dikenal sebagai “Warrior Shield” juga akan disiapkan sebagai bagian dari latihan fisik di lokasi tertentu.
Ketegangan dan Dialog Diplomatik
Korea Utara selama ini secara konsisten mengecam latihan besar seperti Freedom Shield dan latihan tahunan lainnya sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan serta persiapan invasi, bukan semata upaya defensif. Ketidaksetujuan tersebut sering diikuti dengan peningkatan pameran militer dan demonstrasi senjata dari Pyongyang.
Disisi lain, Presiden Lee Jae Myung diketahui mendukung pendekatan diplomatik untuk meredakan ketegangan antara kedua Korea, tetapi upaya tersebut belum mendapatkan respon positif dari Pyongyang. Sementara itu, di saat yang sama, hubungan strategis Korea Selatan dengan AS terus diperkokoh, termasuk melalui latihan gabungan seperti “freedom shield”.