Pada 4 Januari 2026 Daily Sabah merilis sebuah artikel yang menjelaskan tentang ekspor persenjataan yang dilakukan oleh Turki pada tahun 2025. Artikel tersebut mengutip Ketua Badan Industri Pertahanan Turki (SSB) Haluk Gorgun yang menyatakan pada tahun 2025 ekspor persenjataan dari Turki mengalami peningkatan sebesar 48% (USD 10 miliar) dari tahun 2024. Gorgun juga mengutip beberapa kontrak yang dimenangkan industri pertahanan Turki seperti pembangunan kapal militer untuk Portugal, jet latih untuk Spanyol, dan jet siluman multiguna KAAN untuk Indonesia. Gorgun juga menyatakan setidaknya 56% (USD 5,6 miliar) dari seluruh persenjataan yang diekspor oleh Turki dikirimkan ke negara Eropa, anggota NATO, dan Amerika Serikat sementara sisa nya dikirimkan ke kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah, dan Benua Afrika.
Menanggapi hal tersebut Gorgun menyatakan bahwa Presiden Recep Tayyip Erdogan senang dengan hasil yang diberikan oleh industri pertahanan Turki. Gorgun juga menjelaskan bahwa Desember 2025 merupakan bulan bersejarah bagi industri pertahanan Turki karena mereka berhasil memenangkan kontrak ekspor dengan nilai yang melebihi USD 2,5 miliar. Selain meningkatkan ekspor persenjataan, Turki juga meningatkan investasi teknologi pertahanan untuk mengurangi ketergantungan dari sistem persenjataan mancanegara. Hasil dari investasi tersebut terlihat pada saat Makine ve Kimya Endüstrisi (MKE) meluncurkan sistem sekam (chaff) BALKIN yang dapat digunakan oleh aset maritim Angkatan Laut Turki (TNF). Dilansir dari EDR, sistem BALKIN dapat melindungi aset maritim dari rudal anti-kapal yang dipandu oleh gelombang radio.
Sejak tahun 2002 industri pertahanan Turki telah mengalami perkembangan pesat akibat dari investasi yang diberikan oleh pemerintah dan sektor swasta. Investasi tersebut bertujuan untuk mencapai kemandirian dalam sektor pertahanan agar kesiapan tempur TAF tidak tergerus dari sanksi dan embargo persenjataan yang ditetapkan oleh sekutu seperti Amerika Serikat. Investasi tersebut berhasil mengubah Turki dari negara yang sebelumnya bergantung terhadap impor persenjataan menjadi salah satu eksportir terbesar ke-12 menurut data yang diterbitkan oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada tahun 2022.