Pada 12 November 2025 Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengumumkan dalam sebuah konferensi pers bahwa kedua negara telah menyepakati perjanjian kerja sama pertahanan baru. Pengumuman tersebut diumumkan oleh Presiden Prabowo dan PM Anthony di atas dek kapal induk HMAS Canberra milik Angkatan Laut Australia (RAN). Dalam perjanjian ini, jika salah satu pihak merasa terancam pemimpin dari kedua negara akan melakukan diskusi komprehensif untuk membahas tentang langkah yang dapat diambil guna menghadapi ancaman tersebut. Presiden Prabowo menyatakan perjanjian ini merupakan perluasan dari Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (DCA) yang ditandatangani oleh Indonesia dan Australia pada 29 Agustus 2024.
Menanggapi perkembangan tersebut PM Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa perjanjian ini merupakan momen bersejarah yang menandakan era baru dalam kerja sama bagi kedua negara. PM Anthony menambahkan bahwa perjanjian kerja sama ini menunjukkan komitmen Indonesia dan Australia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional dengan bertindak secara sinergis. PM Albanese juga menyatakan kerja sama ini didasari oleh perjanjian serupa yang ditandatangani oleh PM Paul Keating dan Presiden Soeharto pada Desember 1995. Sementara itu Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada PM Albanese dan menekankan kebijakan bertetangga baik sebagai dasar bagi hubungan bilateral Indonesia-Australia. Presiden Prabowo menambahkan bahwa Indonesia dan Australia ditakdirkan hidup berdampingan untuk saling membantu dalam menghadapi tantangan bersama.
Indonesia dan Australia merupakan tetangga yang memiliki tantangan keamanan yang serupa. Salah satu tantangan tersebut adalah China yang dianggap oleh kedua negara sebagai mitra ekonomi penting sekaligus rival strategis dengan kekuatan militer yang semakin kokoh di wilayah sengketa Laut China Selatan dan kawasan Indo-Pasifik. Pandangan ini dikonfirmasi oleh mantan PM Paul yang menyatakan dalam sebuah wawancara dengan ABC News bahwa 3 dekade sebelumnya beliau dan Presiden Soeharto gelisah dengan China yang semakin kuat. Mantan PM Paul mengklaim Presiden Soeharto khawatir dengan China karena beliau menganggap kekuatan militer Indonesia tidak cukup untuk mempertahankan seluruh wilayah negara dari serangan musuh yang lebih kuat dan kompeten.