Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan baru dengan China untuk menghidupkan kembali gencatan dagang telah tercapai[1]. Pernyataan ini muncul setelah dua hari negosiasi intensif di London yang mempertemukan pejabat tinggi dari kedua negara. Trump menyebut kesepakatan ini sebagai “langkah besar” untuk memperkuat kerangka yang sebelumnya disepakati di Jenewa[2]. Dalam rincian awal yang disampaikan melalui media sosial, Trump menyebut bahwa Amerika akan memberlakukan tarif total sebesar 55% terhadap produk China, dan China hanya akan mengenakan tarif sebesar 10% terhadap barang-barang asal AS[3].
Meski perjanjian ini digadang sebagai langkah maju, berbagai pihak menilai keberhasilannya masih bersifat tentatif. Bank Dunia, misalnya, baru-baru ini menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 menjadi 2,3%, menyebut bahwa tarif tinggi dan ketidakpastian kebijakan dagang menjadi faktor penghambat utama[4].
China kini memiliki posisi tawar yang kuat berkat dominasinya dalam ekspor mineral strategis. Langkah China yang sebelumnya membatasi ekspor bahan penting seperti logam tanah jarang dan magnet dianggap sebagai sinyal bahwa Beijing tidak segan menggunakan ketergantungan global sebagai alat negosiasi[5]. Dalam konteks ini, kesepakatan baru dianggap lebih sebagai upaya meredakan ketegangan ketimbang menyelesaikan akar permasalahan struktural dalam hubungan dagang kedua negara. Meski Trump menggambarkan kesepakatan ini sebagai kemenangan strategis, banyak pengamat melihatnya sebagai “jeda”, bukan “akhir”. Deadline untuk menyempurnakan kesepakatan yang dicapai di Jenewa sebelumnya ditetapkan pada 10 Agustus 2025; dengan masih banyaknya detail teknis yang belum diselesaikan dan perbedaan interpretasi dari masing-masing pihak. Prospek jangka panjang dari kesepakatan ini pun kemudian dinilai masih belum pasti.
Bila dilihat menggunakan kacamata teori interdependensi kompleks yang dikembangkan oleh Keohane dan Nye, hubungan antar Amerika Serikat dan China kini semakin dipengaruhi oleh berbagai aktor non-negara, seperti perusahaan multinasional, organisasi internasional, dan lembaga keuangan, yang memiliki peran signifikan dalam membentuk kebijakan serta kerja sama lintas negara. Keohane dan Nye menolak pandangan realisme yang menempatkan negara dan kekuatan militer sebagai aktor serta instrumen utama dalam hubungan internasional[6]. Dalam kerangka ini, interaksi tidak hanya terjadi melalui saluran formal antar pemerintah, tetapi juga melalui jalur transnasional dan transpemerintah, sehingga menciptakan jaringan ketergantungan yang kompleks dan saling memengaruhi. Selain itu, dalam konteks interdependensi kompleks, teori ini menyoroti ketiadaan hierarki isu yang tetap; dimana isu ekonomi, lingkungan, dan sosial bisa menjadi sama pentingnya dengan isu militer, tergantung pada kepentingan aktor yang terlibat.
Sejalan dengan interdependensi kompleks, dalam konteks hubungan Amerika Serikat dan China tampak nyata pada berbagai bidang strategis, seperti perdagangan, pendidikan, dan diplomasi ekonomi. AS yang bergantung pada ekspor logam tanah jarang dari China untuk kebutuhan industri teknologi tinggi, sementara China pun membutuhkan akses ke teknologi canggih dari AS, khususnya di bidang semikonduktor. Hubungan ini memperlihatkan adanya interdependensi asimetris, di mana kedua negara memiliki tingkat ketergantungan yang berbeda-beda di setiap sektor, sehingga menciptakan ruang tawar-menawar (bargaining) dalam negosiasi bilateral[7].
Implikasi dari interdependensi ini kemudian memunculkan kerentanan bersama, di mana setiap upaya untuk memutus hubungan atau menerapkan embargo akan menimbulkan biaya yang besar bagi kedua belah pihak. Akibatnya, konflik terbuka, seperti perang dagang, cenderung dihindari karena dapat merugikan kepentingan nasional masing-masing. Sebaliknya, kerja sama menjadi pilihan rasional demi menjaga stabilitas ekonomi dan politik global. Dengan demikian, teori Kompleks Interdependensi menjelaskan mengapa isu-isu non-militer salah satunya teknologi mendominasi agenda negosiasi AS–China, serta mengapa diplomasi ekonomi modern menuntut fleksibilitas dan manajemen risiko yang tinggi. Kesepakatan dagang terbaru antara kedua negara menjadi bukti nyata bahwa dalam dunia yang semakin terhubung, konflik dan kerja sama berjalan secara paralel, dan kedua negara saling membatasi serta menyeimbangkan satu sama lain dalam kerangka ketergantungan yang kompleks. Munculnya kesepakatan dagang baru ini tentu bukanlah akhir dari tarik-ulur kepentingan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Dalam atmosfer hubungan internasional yang ditandai oleh saling ketergantungan dan kompleksitas aktor, kemampuan kedua negara untuk mengelola perbedaan dan membangun kepercayaan akan menjadi ujian nyata bagi efektivitas diplomasi ekonomi abad ke-21. Kesepakatan ini mungkin bukan jawaban akhir, tetapi mencerminkan sebuah kesadaran bersama bahwa dalam dunia yang saling terhubung, stabilitas lebih bernilai daripada dominasi sepihak.
[1] Mason, J., Smout, A., & Chiacu, D. (2025, Juni 12). Deal to get US-China trade truce back on track is done, Trump says. Retrieved from Reuters: https://www.reuters.com/world/china/us-china-trade-talks-resume-second-day-2025-06-10/
[2] Planasari, S. (2025, Juni 11). Cina-AS Sepakati Kerangka Kesepakatan Dagang di London. Retrieved from Tempo: https://www.tempo.co/internasional/cina-as-sepakati-kerangka-kesepakatan-dagang-di-london-1674455
[3] Post Editorial Board. (2025, Juni 11). Three cheers for the US-China trade war ceasefire. Retrieved from New York Post: https://nypost.com/2025/06/11/opinion/three-cheers-for-the-us-china-trade-war-ceasefire/?utm_
[4] Melani, A. (2025, Juni 11). Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global jadi 2,3% pada 2025. Retrieved from Liputan6: https://www.liputan6.com/bisnis/read/6049010/bank-dunia-pangkas-pertumbuhan-ekonomi-global-jadi-23-pada-2025?page=3
[5] Meredith, S. (2025, Juni 10). China’s rare-earth mineral squeeze puts defense giants in the crosshairs. Retrieved from CNBC: https://www.cnbc.com/2025/06/10/chinas-rare-earth-squeeze-puts-defense-giants-in-the-crosshairs.html
[6] Keohane, Robert O., and Joseph S. Nye. (2012). Power and Interdependence. N.p.: Longman.
[7] Amalia, Z. (2021). Pendekatan Strategis dalam Persaingan: Interdependensi Finansial Amerika Serikat dan Tiongkok. Jurnal Sentris, 2(1), 105-120.