Pada 17 Juni 2025 Angkatan Udara Israel (IAF) mengunggah video di media sosial yang menunjukan kehancuran dua pesawat tempur F-14 Tomcat milik Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF) di Pangkalan Udara Teheran. Kedua pesawat tempur ikonis dihancurkan menggunakan sepasang rudal anti-darat yang ditembakkan dari pesawat tempur atau drone IAF yang beroperasi di sekitar Teheran. Dalam sebuah konferensi pers, Juru Bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Brigjen Ephraim (Effi) Defrin menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi serangan preventif yang lebih besar. Brigjen Defrin menambahkan bahwa IAF juga berhasil menghancurkan sebuah drone kamikaze dengan kru nya sebelum senjata tersebut berhasil diluncurkan.
Menurut analis pertahanan dan Tyler Rogoway, serangan yang dilancarkan Israel terhadap aset udara IRIAF merupakan bagian dari kampanye udara yang bertujuan untuk mengikis kekuatan udara Iran dengan menghancurkan arhanud dan armada pesawat tempur mereka. Serangan ini merupakan bagian dari Operasi Kebangkitan Singa (Rising Lion), sebuah serangan preventif yang bertujuan mengikis kapabilitas militer dan program senjata nuklir Republik Islam Iran dengan menargetkan fasilitas dan ilmuwan nuklir, serta petinggi militer Iran. Sejauh ini serangan preventif yang dilancarkan oleh Negeri Bintang Daud telah menewaskan beberapa petinggi militer Iran dan setidaknya 14 ilmuwan nuklir. Petinggi militer yang tewas diantaranya adalah pemimpin IRGC Mayjen Hossein Salami, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Reguler (Artesh) Mayjen Mohammad Bagheri, dan Kepala Khatam Al-Anbiya Mayjen Gholamali Rashid.
F-14 Tomcat merupakan sebuah pesawat tempur yang terkenal akibat dari film Top Gun yang dirilis pada tahun 1986. Pesawat tempur ini digunakan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (USN) pada tahun 1970 hingga 2006. Iran merupakan satu-satunya pengguna F-14 Tomcat selain Amerika Serikat karena pada Januari 1974 Shah Mohammad Reza Pahlavi mengakuisisi 80 F-14 untuk memperkuat angkatan udaranya dari ancaman Uni Soviet dan Republik Ba’ath Irak. Setelah Revolusi Islam dan Krisis Sandera pada tahun 1979 Amerika Serikat memutuskan hubungan diplomatik dan memberlakukan embargo persenjataan terhadap Iran. Embargo tersebut menyebabkan F-14 milik IRIAF kesulitan terbang karena suku cadang yang diperlukan untuk mempertahankan tempo operasional tidak dikirimkan.