Fenomena kelas menengah China mulai takut jadi miskin bukan sekadar cerita psikologis. Ini adalah gejala ekonomi yang cukup serius ketika kelompok yang dulu menjadi motor konsumsi mulai merasa masa depannya tidak aman, mereka akan mengubah cara belanja dengan cara menahan uang dan menurunkan standar konsumsi. Istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan ini adalah consumption downgrade. Artinya adalah konsumen tetap membeli, tetapi lebih murah, lebih selektif, dan lebih defensif.
Konsumsi sangat dipengaruhi oleh pendapatan saat ini dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi. Ketika pendapatan naik dan orang merasa aman, konsumsi cenderung meningkat. Sebaliknya, ketika pendapatan tidak pasti, pekerjaan rawan, dan nilai aset turun, rumah tangga akan meningkatkan tabungan berjaga-jaga dan menunda konsumsi. Dalam konteks China, teori consumption downgrade menjadi relevan karena masalahnya bukan hanya tentang orang yang tidak punya uang, melainkan juga orang takut uangnya tidak cukup untuk masa depan.
Data dari National Bureau of Statistics of China (NBS) mendukung kekhawatiran tersebut, penjualan ritel China pada 2025 memang masih tumbuh, tetapi hanya 3,7% per tahun, dengan total penjualan ritel mencapai 50,12 triliun yuan. Pada Desember 2025, pertumbuhan ritel hanya 0,9%, jauh lebih lemah dibanding narasi ekonomi China yang biasanya agresif. Ini menunjukkan konsumsi masih berjalan, tetapi momentumnya melemah.
Sumber tekanan terbesar adalah properti, selama dua dekade rumah bukan hanya tempat tinggal bagi kelas menengah China, tetapi juga simbol mobilitas sosial dan penyimpan kekayaan keluarga. Ketika harga properti turun, efeknya langsung terasa pada rasa aman rumah tangga. Data resmi menunjukkan harga rumah komersial di 70 kota besar China masih turun secara tahunan pada April 2025, walau laju penurunannya mulai mereda.
Dampaknya terhadap kelas menengah masuk akal apabila aset utama keluarga adalah properti, maka penurunan harga rumah membuat keluarga merasa lebih miskin meski gaji belum tentu langsung turun. Inilah yang disebut efek kekayaan ketika nilai aset turun, konsumsi ikut tertahan. South China Morning Post (SCMP) juga melaporkan bahwa pertumbuhan pendapatan properti per kapita China pada 2024 mencapai level terendah dalam lebih dari satu dekade, sehingga menekan pendapatan dan konsumsi kelas menengah.
Kemudian masalah kedua adalah pekerjaan, karena secara resmi tingkat pengangguran urban China pada 2025 berada di 5,2%, sementara Desember 2025 berada di 5,1%. Angka ini terlihat stabil, tetapi tetap mencerminkan pasar kerja yang belum sepenuhnya kuat. Untuk anak muda, tekanannya lebih jelas mengenai pengangguran usia 16 – 24 tahun, tidak termasuk pelajar, berada di 16,5% pada Desember 2025. Bagi kelas menengah, risiko pengangguran anak muda bukan masalah kecil. Banyak keluarga China menginvestasikan banyak uang untuk pendidikan anak. Jika setelah lulus pekerjaan sulit didapat, maka keyakinan lama tentang kerja keras akan naik kelas kian meretak. Ketika jalur mobilitas sosial melemah, konsumsi berubah dari ekspresi optimisme menjadi tindakan bertahan hidup.
Consumption downgrade juga terlihat jelas di sektor barang mewah. Bain dan Company melaporkan pasar barang mewah domestik China turun 18-20% pada 2024 dan diperkirakan datar pada 2025. Penyebab utamanya adalah lemahnya kepercayaan konsumen dan pergeseran belanja ke luar negeri. Ini menjadi penting karena barang mewah biasanya sensitif terhadap rasa percaya diri ekonomi. Ketika konsumen kelas menengah atas mengurangi belanja luxury, itu menandakan mereka tidak lagi yakin kondisi keuangan akan terus membaik.
Pada saat yang sama, rumah tangga China makin suka menyimpan uang. Data bank sentral yang dikutip media pemerintah menunjukkan deposito rumah tangga naik 8,3 triliun yuan dalam lima bulan pertama 2025. McKinsey juga mencatat bahwa pada paruh pertama 2025, kepercayaan konsumen China masih rendah, pasar properti masih tertekan, dan rumah tangga tetap menabung pada tingkat historis tinggi. Ketika ekspektasi memburuk, masyarakat tidak otomatis membelanjakan uang walau pemerintah mendorong konsumsi. Mereka memilih likuiditas dengan membeli barang yang lebih murah, menghindari cicilan besar, menunda liburan mahal, dan mengurangi belanja simbol status. Bukan karena semua orang miskin, tetapi karena mereka takut menjadi miskin.
Inti masalah China bukan sekadar pelemahan konsumsi, tetapi hilangnya keyakinan kelas menengah terhadap janji kenaikan sosial. Selama ini ekonomi China ditopang oleh narasi bahwa hidup akan terus membaik di mana pekerjaan makin bagus, rumah makin mahal, bisnis makin besar, dan anak akan hidup lebih sejahtera. Ketika properti jatuh, pekerjaan tidak pasti, dan konsumsi berubah defensif, narasi itu melemah.
Kesimpulannya, consumption downgrade di China adalah sinyal bahwa kelas menengah sedang memperbaiki neraca rumah tangga, bukan sekadar mengganti merek mahal dengan merek murah. Jika pemerintah China tidak mampu memulihkan pasar kerja, menstabilkan properti, dan memperkuat jaring pengaman sosial, konsumsi domestik akan sulit menjadi mesin pertumbuhan utama. Model ekonomi China mungkin tidak langsung runtuh, tetapi akan semakin berat bergerak jika kelas menengahnya tidak lagi percaya bahwa masa depan mereka akan lebih baik dari hari ini.