Presiden Xi Jinping menegaskan kembali kemitraan kedua negara yang semakin dalam selama pertemuan dengan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu pada hari Jumat (28/02/2025). Xi menggambarkan kedua negara sebagai “teman sejati seperti baja yang berulang kali ditempa oleh api,” dan menekankan kerja sama mereka yang berkelanjutan dalam masalah-masalah internasional dan regional.
Pernyataan Xi mencerminkan keselarasan yang berkembang antara kedua negara, yang semakin menguat sejak terjadinya konflik Ukraina. Ia menyerukan koordinasi yang lebih besar antara kedua negara dan menyoroti pentingnya mengimplementasikan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat selama diskusinya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada awal tahun ini.
Shoigu, yang mengunjungi Beijing di tengah-tengah menghangatnya hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat, menggemakan sentimen Xi, menggambarkan hubungan Rusia dengan China berada pada “tingkat yang sangat tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia menegaskan bahwa kerja sama antara Moskow dan Beijing tidak ditujukan untuk melawan negara ketiga manapun, dan memposisikan kemitraan mereka sebagai model hubungan antara dua kekuatan global. Shoigu juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam kunjungannya, di mana ia berterima kasih kepada Beijing karena telah menjadi tuan rumah KTT BRICS 2024 di Kazan, Rusia.
Pertukaran diplomatik ini terjadi di saat Rusia dan AS telah mengambil langkah-langkah untuk menormalkan hubungan mereka, yang memicu spekulasi tentang bagaimana hal ini dapat berdampak pada keselarasan strategis Moskow dengan China.
Awal minggu ini, para pejabat AS dan Rusia bertemu di Turki untuk mendiskusikan upaya-upaya untuk mengurangi ketegangan, sementara Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengadakan pembicaraan di Arab Saudi untuk mendiskusikan solusi-solusi potensial untuk perang yang sedang berlangsung di Ukraina. Rumor juga beredar mengenai kemungkinan pertemuan tatap muka antara Presiden AS Donald Trump dan Putin.
Terlepas dari mencairnya hubungan AS-Rusia ini, Beijing tetap teguh dalam pendiriannya mengenai kemitraannya dengan Moskow. Menanggapi kekhawatiran AS tentang memperdalam hubungan China-Rusia, juru bicara Kementerian Luar Negeri China telah menepis upaya-upaya untuk menciptakan perselisihan di antara kedua negara, dan menyatakan bahwa upaya-upaya semacam itu “sepenuhnya sia-sia” dan bahwa hubungan bilateral mereka akan “bergerak maju dengan mantap.”
Dalam perkembangan terkait, China sedang mempersiapkan parade militer besar-besaran akhir tahun ini untuk menandai ulang tahun ke-80 berakhirnya Perang Dunia II. Acara yang akan diselenggarakan pada tanggal 3 September ini diperkirakan akan dihadiri oleh Presiden Putin, yang akan semakin memperkuat hubungan seremonial dan diplomatik antara kedua negara. Sumber lain juga menyatakan bahwa Putin juga berpartisipasi dalam KTT Organisasi Kerjasama Shanghai yang diselenggarakan oleh China pada waktu yang sama.
Parade ini akan memperingati kemenangan rakyat China dalam perang perlawanan melawan agresi Jepang, serta kemenangan global yang lebih luas dalam melawan fasisme. Acara ini diharapkan dapat menjadi simbol kerja sama yang berkembang antara China dan Rusia, yang mencerminkan pengalaman sejarah bersama dan komitmen untuk memperkuat hubungan bilateral mereka.
Dengan kunjungan Presiden Putin yang diharapkan ke Beijing, termasuk partisipasi dalam parade dan KTT SCO, hubungan China-Rusia tampaknya akan melanjutkan lintasannya untuk memperdalam kolaborasi, baik secara militer maupun diplomatik. Seiring dengan kemajuan kemitraan ini, kemungkinan besar akan memiliki implikasi yang signifikan terhadap geopolitik global, terutama dalam konteks pergeseran hubungan AS-Rusia.