Pada 25 Agustus 2026, Juru Bicara Korps Marinir Korea Selatan (ROKMC) Han Seung-jeon menyatakan dalam konferensi pers bahwa Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) menginfokan bahwa mereka tidak dapat melakukan latihan bersama pada September 2026. USMC menyatakan bahwa mereka tidak akan mampu untuk melakukan aksi rutin ini akibat dari konflik Amerika Serikat dan Iran yang membatasi kemampuan mereka dalam mengirimkan pasukan untuk mengikuti latihan bersama dengan negara sekutu. Han juga menyatakan bahwa saat ini pemerintah Amerika Serikat dan Korea Selatan sedang melakukan konsultasi untuk melanjutkan latihan bersama antara ROKMC dan USMC dalam waktu dekat. Dilansir dari Al-Jazeera, hingga saat ini belum ada tanggapan dari Pentagon tentang pembatalan latihan bersama tersebut.
Pembatalan latihan bersama antara USMC dan ROKMC merupakan perkembangan signifikan karena terjadi beberapa minggu setelah Presiden Donald Trump memerintahkan Pentagon untuk mengurangi frekuensi latihan bersama dengan Korea Selatan. Pengurangan ini diperintahkan akibat dari beberapa faktor seperti keengganan Korea Selatan untuk membantu Amerika Serikat di Timur Tengah serta biaya operasional yang diklaim cukup tinggi. Menanggapi perkembangan tersebut, pakar militer Song Zhongping menyatakan pembatalan latihan ini merupakan bagian dari niat Trump untuk memberikan itikad baik kepada Korea Utara guna mendorong adanya aksi pertemuan langsung antara beliau dan Kim Jong Un. Namun Song menambahkan bahwa itikad baik ini hanya akan membuahkan hasil jika Korea Utara melakukan aksi serupa. Hal ini dapat terjadi jika Amerika Serikat melakukan langkah komprehensif dan tulus yang memberikan dampak positif bagi kepentingan nasional Korea Utara.
Keputusan Amerika Serikat untuk membatalkan latihan bersama dengan ROKMC bukan hal baru karena sebelumnya aksi serupa telah dilakukan pada 2018 dengan pembatalan latihan bersama Ulchi Freedom Guardian dan mengurangi frekuensi latihan lainnya. Pembatalan dan pengurangan ini memiliki tujuan serupa yaitu untuk membuka peluang diplomasi dengan Korea Utara. Keputusan ini diberikan bahkan setelah Militer Amerika Serikat dan Korea Selatan menyarankan Presiden Trump untuk tidak melakukan hal tersebut. Saran tersebut diberikan karena perimbangan kekuatan militer antara Korea Selatan dan Korea Utara telah mengalami perubahan signifikan sejak 2018. Dalam dinamika saat ini, Militer Korea Utara memiliki keunggulan kualitatif karena mereka telah mendapatkan pengalaman perang modern di Ukraina khususnya dalam penggunaan drone murah.