Pada 28 Juni 2026, Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang Shinjiro Koizumi melakukan kunjungan resmi ke Korea Selatan untuk membahas peluang kerja sama pertahanan antara kedua negara dengan Menhan Korsel Ahn Gyu-back. Dalam pertemuan tersebut, Kedua menhan sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dalam bidang seperti pertukaran personel serta kolaborasi penelitian dan pengembangan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI). Dalam hal pertukaran personel, kedua negara akan meningkatkan interaksi dan pertukaran ilmu antara tim akrobat Blue Impulse dari Pasukan Pertahanan Udara Jepang (JASDF) serta tim akrobat Black Eagle dari Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF). Selain itu, kedua negara juga menyampaikan komitmen bersama untuk melucuti persenjataan nuklir Korea Utara agar perdamaian permanen dapat tercapai di Semenanjung Korea.
Setelah pertemuan rampung, Menhan Koizumi menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa kerja sama pertahanan antara Jepang dan Korea Selatan saat ini sedang meningkat secara bertahap berdasarkan prinsip kepercayaan mutual. Selanjutnya, Menhan Koizumi kembali menyampaikan kekhawatiran terhadap ketegangan militer di kawasan Indo-Pasifik dengan meningkatnya kerja sama pertahanan antara Rusia dan China. Kerja sama ini juga diperkuat dengan patroli bersama antara Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) China dan Angkatan Udara Rusia (VKS) di Laut Jepang serta Laut China Timur. Menurut Koizumi, patroli tersebut dapat dianggap sebagai aksi show of force yang dilakukan untuk mengitimidasi Jepang. Setelah konferensi pers rampung, Menhan Koizumi berkunjung ke Pangkalan Udara Wonju di Provinsi Gangwon untuk melihat kondisi tim akrobat Black Eagles ROKAF. Kunjungan ini dianggap sebagai tindak lanjut dari perbincangan antara kedua menhan Januari lalu tentang isu pemberian bahan bakar bagi pesawat ROKAF yang mendarat di Jepang.
Pertemuan antara Menhan Jepang dan Korea Selatan merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan sekaligus memperkuat kerja sama pertahanan antara kedua negara. Hal ini telah membuahkan beberapa hasil positif seperti kembali dilaksanakannya latihan bersama SAREX antara Pasukan Pertahanan Maritim Jepang (JMSDF) dan Angkatan Laut Korea Selatan (ROKN). Akan tetapi, program lain yang bersifat semi-aliansi seperti perjanjian acquisition and cross-servicing agreement (ACSA) sulit untuk dilakukan akibat dari isu sejarah antara Korea Selatan dan Jepang.