Pada 21 Juni 2026, Pasukan Pertahanan Jepang (JSDF) dan Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) menyelenggarakan latihan bersama dengan nama Resolute Dragon di Pulau Kyushu dan Okinawa. Latihan bersama ini akan berlangsung hingga 30 Juni 2026 dan mencakup beberapa skenario seperti evakuasi korban tempur secara cepat, pembuatan pertahanan berlapis, serta pengerahan pasukan cepat untuk menghadapi situasi tidak terduga. Tujuan dari latihan bersama ini adalah untuk memperkuat pertahanan wilayah selatan Jepang sekaligus meningkatkan koordinasi antara JSDF dan USMC dalam operasi bersama. Dalam latihan bersama ini, Pasukan Pertahanan Darat Jepang (JGSDF) mengerahkan pesawat MV-22 Osprey ke Pulau Miyako untuk mengevakuasi korban perang yang ada di skenario latihan. Selain mengerahkan aset udara, JGSDF juga mengerahkan tank tempur (MBT) Tipe 10 di Lapangan Latihan Hijudai namun mereka tidak akan menembakkan meriam akibat dari insiden mematikan tiga bulan sebelumnya.
Menanggapi pelaksanaan latihan bersama ini, Komandan Tentara Barat Letnan Jenderal (Letjen) Seiji Toriumi menyatakan dalam upacara pembukaan bahwa kegiatan ini penting untuk meningkatkan kemampuan tempur yang dimiliki oleh JSDF dan USMC. Letjen Toriumi menambahkan bahwa latihan bersama ini juga memiliki peran signifikan dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Di sisi lain, media China China Daily merilis sebuah artikel yang menyatakan bahwa latihan bersama yang dilakukan JSDF dan USMC di Kyushu telah membuat masyarakat setempat khawatir terhadap polusi suara. Selanjutnya artikel ini juga menyatakan bahwa latihan ini dapat memperburuk hubungan antara Jepang dengan negara tetangga sehingga menggerus perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Pandangan ini juga diberikan oleh Peneliti Akademi Ilmu Sosial Tianjin Liu Shuliang yang menyatakan bahwa selain memperburuk hubungan dengan China, latihan bersama Resolute Dragon juga merupakan bagian dari kembalinya ‘militerisme baru’ di Jepang.
Dilakukannya latihan bersama Resolute Dragon merupakan bagian dari komitmen antara Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat Pete Hegseth dan Menhan Jepang Shinjiro Koizumi pada Januari 2026 untuk meningkatkan kesiapan operasional di wilayah Selatan Jepang. Komitmen ini diberikan karena kedua negara memiliki kekhawatiran terhadap kesiapan rantai kepulauan pertama dalam menghadapi skenario serangan masif dari Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) dan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN). Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kemungkinan tersebut, Menhan Koizumi sedang berupaya untuk memperbaiki postur pertahanan Jepang dengan membeli persenjataan serang jarak jauh dan memperkuat aliansi militer antara kedua negara.