Selama dua dekade terakhir, dunia mengagumi China sebagai simbol keberhasilan pembangunan modern. Negara tersebut membangun jalan tol, kereta cepat, bandara, kawasan industri, hingga kota-kota baru dalam kecepatan yang sulit ditandingi negara lain. Namun di balik citra kemajuan tersebut, muncul fenomena yang semakin menarik perhatian para ekonom dan pengamat global yaitu Ghost Cities 2.0. Fenomena ini merujuk pada pembangunan besar-besaran apartemen, pusat perbelanjaan, dan kota satelit di China yang dalam sejumlah kasus memiliki tingkat hunian dan aktivitas ekonomi rendah. Berbagai laporan seperti Reuters, Bloomberg, dan IMF menunjukkan bahwa krisis properti China memperlihatkan adanya ketergantungan pertumbuhan ekonomi terhadap sektor pembangunan dan investasi infrastruktur, meskipun permintaan domestik mulai melemah.
Hal tersebut bukan sekadar masalah properti biasa karena mencerminkan kemungkinan bahwa sebagian pertumbuhan ekonomi China selama ini terlalu bergantung pada pembangunan fisik yang menghasilkan angka pertumbuhan tinggi di atas kertas, tetapi tidak sepenuhnya menciptakan aktivitas ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. Dalam fenomena seperti ini, teori State Capitalism menjelaskan bahwa negara bukan hanya berfungsi sebagai regulator ekonomi, melainkan aktor utama yang secara aktif mengendalikan investasi, pembangunan, dan arah pertumbuhan ekonomi. Berbeda dengan kapitalisme liberal yang bergantung pada mekanisme pasar, model China justru menempatkan negara dan pemerintah daerah sebagai motor utama pembangunan.
Dalam konteks China, pemerintah daerah memiliki insentif politik yang sangat besar untuk terus membangun proyek-proyek raksasa. Selama bertahun-tahun, keberhasilan pejabat lokal diukur dari pertumbuhan ekonomi wilayahnya. Akibatnya, pembangunan infrastruktur dan properti menjadi cara tercepat untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), menarik investasi, dan menunjukkan keberhasilan politik kepada pemerintah pusat di Beijing. Masalahnya kemudian, pembangunan yang terlalu didorong oleh kepentingan pertumbuhan angka sering kali melampaui kebutuhan nyata masyarakat. Banyak apartemen dibangun bukan karena tingginya kebutuhan hunian, tetapi karena properti menjadi instrumen investasi dan sumber pemasukan pemerintah daerah melalui penjualan lahan. Dalam hal ini, tanah menjadi mesin ekonomi sekaligus sumber utang.
Inilah yang membuat fenomena Ghost Cities 2.0 menjadi menarik. Kota-kota kosong di China hari ini bukan sekadar akibat salah perencanaan, tetapi hasil dari model pertumbuhan ekonomi yang terlalu bertumpu pada pembangunan fisik sebagai simbol kemajuan. Beberapa tahun lalu, dunia sempat melihat kota-kota kosong seperti Ordos di Mongolia. Namun kini pola serupa muncul kembali dalam skala lebih luas. Banyak pengembang besar China mengalami krisis keuangan, seperti Evergrande dan Country Garden, tetapi pembangunan tetap berjalan di berbagai wilayah. Ini menunjukkan bahwa ada dorongan struktural yang membuat pembangunan terus dilakukan meskipun pasar mulai melemah.
Fenomena tersebut memperlihatkan paradoks besar ekonomi China karena di satu sisi, negara itu masih mencatat pertumbuhan dan terus membangun. Namun di sisi lain, banyak masyarakat justru menghadapi penurunan optimisme ekonomi. Anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan stabil, harga properti tidak lagi naik seperti dulu, dan kelas menengah mulai menahan konsumsi. Dalam perspektif State Capitalism, kondisi ini menunjukkan risiko ketika negara terlalu dominan dalam menggerakkan ekonomi. Karena proyek pembangunan berkaitan dengan stabilitas politik dan legitimasi pemerintah, pembangunan tidak mudah dihentikan walaupun efisiensi ekonominya mulai dipertanyakan. Pemerintah daerah tetap membutuhkan proyek baru untuk menjaga arus investasi, membayar utang lama, dan mempertahankan citra pertumbuhan.
Secara statistik ekonomi tampak bergerak, gedung terus berdiri, tetapi aktivitas manusia dan daya beli masyarakat tidak tumbuh secepat infrastruktur yang dibangun. Dalam jangka pendek, strategi ini mungkin masih mampu menjaga stabilitas. Namun dalam jangka panjang, ketidakseimbangan tersebut dapat menciptakan risiko serius terhadap ekonomi China sendiri. Lebih jauh lagi, Ghost Cities 2.0 juga memperlihatkan perubahan penting dalam psikologi masyarakat China. Jika dulu properti dianggap simbol kepastian masa depan dan alat investasi paling aman, kini banyak warga mulai kehilangan kepercayaan terhadap sektor tersebut. Fenomena apartemen kosong dan proyek mangkrak membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam membeli properti baru.
Ini berbahaya bagi China karena sektor properti selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional. Banyak pendapatan pemerintah daerah, perusahaan konstruksi, hingga kekayaan rumah tangga bergantung pada naiknya harga properti. Ketika sektor ini mulai kehilangan daya tarik, maka efeknya dapat menjalar ke konsumsi, investasi, bahkan stabilitas sosial. Yang membuat fenomena ini semakin penting untuk dikaji adalah kenyataan bahwa dunia selama ini melihat China sebagai model keberhasilan pembangunan modern. China berhasil mengangkat ratusan juta orang dari kemiskinan dan membangun infrastruktur dalam skala luar biasa. Namun Ghost Cities 2.0 menunjukkan bahwa model tersebut juga memiliki sisi rapuh yakni pertumbuhan yang terlalu digerakkan negara dapat menghasilkan pembangunan yang besar secara visual, tetapi belum tentu sehat secara ekonomi.
Meski demikian, bukan berarti China akan langsung mengalami keruntuhan ekonomi. Negara itu masih memiliki kapasitas fiskal besar, kontrol politik kuat, dan kemampuan intervensi yang tidak dimiliki banyak negara lain. Pemerintah China juga mulai mencoba mengalihkan fokus ekonomi dari properti menuju teknologi, manufaktur maju, dan konsumsi domestik. Namun pertanyaan besarnya tetap relevan apakah pertumbuhan China selama ini benar-benar mencerminkan kebutuhan ekonomi riil masyarakat, atau sebagian hanya didorong oleh logika pembangunan tanpa henti?
Fenomena Ghost Cities 2.0 menunjukkan bahwa pembangunan fisik tidak selalu identik dengan kemajuan sosial-ekonomi. Gedung tinggi, jalan lebar, dan kota baru memang dapat menciptakan kesan modernitas, tetapi sebuah kota sejatinya hidup bukan karena beton dan kaca, melainkan karena manusia, aktivitas ekonomi, dan rasa optimisme terhadap masa depan. Jika China gagal mengembalikan keseimbangan antara pembangunan fisik dan kebutuhan riil masyarakat, maka kota-kota kosong itu bukan hanya simbol krisis properti, melainkan bisa menjadi simbol dari model pertumbuhan yang mulai kehilangan jiwanya sendiri.