Perusahaan teknologi dan pertahanan asal Singapura, ST Engineering, mencatat perolehan kontrak baru sebesar S$4,8 miliar (sekitar Rp56 triliun) pada kuartal pertama 2026. Angka ini tercatat meningkat sekitar S$400 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan mencerminkan kuatnya permintaan global di sektor pertahanan dan kedirgantaraan Negeri Singa.
Kontrak terbesar berasal dari segmen defence & public security. Segmen ini menyumbang S$2,4 miliar, atau sekitar setengah dari total kontrak baru. Sementara itu, divisi commercial aerospace menyumbang S$1,7 miliar, dan segmen urban solutions & satcom sebesar S$700 juta.
Ekspansi Timur Tengah jadi pendorong utama
Pertumbuhan signifikan ini dinilai tidak lepas dari meningkatnya belanja militer global di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini. ST Engineering memperluas kehadirannya di Timur Tengah dengan sejumlah kontrak strategis, yakni kontrak pemeliharaan (MRO) senilai sekitar S$470 juta untuk mendukung angkatan darat Qatar, serta subkontrak sekitar S$600 juta dari Abu Dhabi Ship Building untuk sistem kapal militer bagi Angkatan Laut Kuwait.
Tidak hanya itu, permintaan amunisi kaliber 40 mm dan 155 mm juga meningkat dari berbagai pelanggan internasional.
Bisnis dirgantara tetap kuat, smart city dan satelit ikut menopang
Di sektor kedirgantaraan, perusahaan mendapatkan berbagai kontrak pemeliharaan pesawat (MRO) multi-tahun, termasuk untuk armada Airbus dan Boeing milik maskapai penumpang dan kargo. Ada juga kontrak konversi pesawat penumpang menjadi kargo Airbus A330.
Segmen solusi perkotaan dan satuan komunikasi juga menunjukkan pertumbuhan stabil, didorong oleh proyek sistem transportasi pintar dan rel di Singapura dan Taiwan, proyek jalan pintar di Timur Tengah, serta proyek infrastruktur satelit di Asia dan Eropa.
Dengan tambahan kontrak ini, ST Engineering diperkirakan memiliki backlog pesanan yang kuat, memberikan visibilitas pendapatan untuk beberapa tahun ke depan. Walaupun perusahaan menyatakan kontrak tersebut tidak akan berdampak material terhadap laba per saham dalam jangka pendek.
Implikasi terhadap Pemerintah
Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, perlunya memperkuat kerja sama internasional, mendorong kemandirian industri pertahanan dalam negeri merupakan hal yang penting. Namun, hal ini perlu dilakukan dengan tetap memastikan setiap peningkatan belanja dilakukan secara efektif dan akuntabel agar tidak membebani fiskal jangka panjang. Dengan demikian, peluang kolaborasi dengan pemain global kemudian dapat dimanfaatkan untuk transfer teknologi dan pengembangan kapasitas industri nasional, khususnya di sektor dirgantara, keamanan siber, dan infrastruktur pintar.