Pada 28 April 2026, Kementerian Luar Negeri Ukraina secara resmi memanggil duta besar (dubes) Israel untuk memberikan nota protes akibat isu bahwa mereka telah memperbolehkan beberapa kapal kargo Rusia yang mengangkut gandum rampasan untuk berlabuh di Haifa. Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina Andrii Sybiha menyatakan di media sosial X/Twitter bahwa aksi Israel dapat memperburuk hubungan antara kedua negara. Menlu Andrii menambahkan bahwa dia sulit sulit memahami mengapa Israel tidak merespon permintaan Ukraina untuk menyita kapal kargo yang terbukti mengangkut gandum rampasan. Tidak lama setelah menlu Ukraina memberikan pernyataan tersebut, Uni Eropa (EU) menyatakan mereka mengecam seluruh aksi yang mendukung upaya invasi Rusia terhadap Ukraina. EU juga menyatakan bahwa mereka akan memberikan sanksi terhadap individu yang terlibat dalam transaksi tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Menlu Israel Gideon Sa’ar menyatakan di X/Twitter bahwa tuduhan yang diberikan oleh Ukraina tidak memiliki bukti yang kuat. Menlu Gideon juga mengkritik Kemenlu Ukraina yang menurutnya tidak pernah memberikan permintaan resmi kepada Israel untuk membahas isu kapal Rusia yang mengangkut gandum rampasan. Namun Menlu Gideon menyatakan bahwa hal tersebut akan diselidiki oleh institusi terkait karena Israel merupakan negara hukum. Pernyataan yang diberikan oleh Menlu Gideon tidak sepenuhnya benar karena berdasarkan laporan yang telah dirilis oleh Haaretz, Israel telah menerima empat kapal kargo yang telah terbukti membawa gandum rampasan Ukraina. Investigasi ini juga memperlihatkan bagaimana kapal kargo tersebut berusaha untuk menyembunyikan diri sebelum memuat gandum rampasan dari Sevastopol dengan mematikan sistem pemancar otomatis (AIS).
Investigasi Haaretz diperkuat oleh sumber anonim dari Kemenlu Ukraina yang menyatakan bahwa Israel tidak mempedulikan permintaan yang diberikan oleh Ukraina. Sumber anonim tersebut menambahkan bahwa jika Israel tidak menolak impor gandum rampasan, Ukraina berhak melancarkan respon diplomatik dan hukum secara komprehensif. Selain itu, sumber anonim ini menganggap aksi Israel sebagai pengkhianatan terhadap niat baik Ukraina yang telah mengesahkan regulasi untuk melawan meningkatnya sentimen anti-Yahudi.