Pada 15 Maret 2026, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Embrahim Azizi menyatakan dalam media sosial X/Twitter bahwa Ukraina merupakan target sah dari Operasi Janji Sejati (True Promise) IV akibat dari bantuan drone yang mereka berikan kepada Israel. Azizi menambahkan bahwa berdasarkan pasal 51 piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Iran berhak mempertahankan dirinya dari serangan pihak luar dengan segala cara. Pandangan serupa disampaikan Duta Besar Iran untuk Ukraina Shahriar Amouzegar yang menyatakan pengiriman bantuan tersebut menandakan bahwa Ukraina telah terlibat secara langsung dalam konflik ini. Namun Shahriar juga menekankan bahwa kehadiran tim penasehat dan drone dari Ukraina tidak akan mengubah dinamika pertempuran karena Iran memiliki teknologi yang mampu menghadapi ancaman tersebut.
Menanggapi perkembangan tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Ukraina Heorhii Tykhyi menyatakan kepada pers bahwa ironis Iran menyatakan hal tersebut karena mereka telah mendukung invasi yang dilancarkan Rusia dengan menjual drone Shahed. Heorhii menambahkan bahwa berdasarkan konteks tersebut penggunaan pasal 51 piagam PBB sebagai justifikasi untuk menyerang Ukraina merupakan suatu hal yang absurd. Heorhii kemudian menafsirkan pernyataan Iran seperti sebuah pembunuh berantai yang membenarkan aksi kejahatannya dengan mengutip pasal dari kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Selain itu, Heorhii juga menyatakan bahwa rezim Iran harus menghadapi hukuman setimpal dari kejahatan yang telah dilakukan terhadap rakyatnya dan negara lain. Pandangan serupa juga diberikan oleh penasehat Kementerian Pertahanan (Kemhan) Ukraina Serhii Sternenko di media sosial X/Twitter. Serhii menambahkan bahwa dukungan yang diberikan Iran kepada Rusia memberikan Ukraina justifikasi cukup untuk menargetkan setiap pejabat sipil dan militer dari Iran.
Sejak Rusia melancarkan invasi terhadap Ukraina pada 24 Februari 2022, Iran telah memberikan bantuan signifikan dengan mengirimkan persenjataan seperti drone Shahed-136 dan rudal balistik jarak pendek Fath-360. Dilansir dari Bloomberg, jumlah persenjataan yang telah diberikan oleh Iran kepada Rusia pada tahun 2026 mencapai nilai setidaknya USD 2,7 miliar. Seluruh persenjataan tersebut telah digunakan oleh Rusia untuk menyerang infrastruktur sipil dan posisi militer di wilayah Donbass.