Israel dan Hamas Resmi Sepakati Gencatan Senjata
Gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza resmi dimulai pada Minggu(19/1). Kesepakatan tersebut berlaku setelah melalui koordinasi yang intens antarakedua pihak yang dibantu oleh mediator, termasuk Qatar, Amerika Serikat, dan Mesir.
Keputusan untuk menerapkan gencatan senjata ini diambil setelah perundinganpanjang yang berlangsung hingga Rabu (15/1), diikuti dengan persetujuan yang disahkan dalam pemungutan suara kabinet Israel pada Jumat (17/1). Dalam voting tersebut, 24 menteri Israel mendukung kesepakatan ini, sementara delapan menteridari kalangan konservatif, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, menolak perjanjian tersebut.
Gencatan senjata ini akan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama akanberlangsung selama 42 hari, mencakup pertukaran sandera, penghentian serangan, serta pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza yang selama ini terhalang oleh konflik. Selain itu, Hamas diperkirakan akan membebaskan 33 sandera, yang juga termasukwarga negara asing yang sebelumnya ditahan di Gaza.
Pada fase kedua, yang dijadwalkan akan mulai dirundingkan pada hari ke-16 gencatansenjata, akan difokuskan pada upaya untuk mengakhiri perang dan mencapaikesepakatan gencatan senjata permanen. Pada fase ini, para sandera yang masihhidup akan dibebaskan dan ratusan tahanan Palestina akan dibebaskan oleh Israel. Salah satu aspek penting dalam fase ini adalah penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Adapun fase ketiga akan mencakup pemulangan jenazah sandera yang tewas selamaperiode konflik, serta meluncurkan rencana rekonstruksi Gaza yang terimbas parahakibat perang yang berlangsung.
Pemerintah Israel menyatakan bahwa mereka telah setuju untuk membebaskan 737 tahanan Palestina dan 1.167 warga Gaza yang ditangkap selama operasi militer Israel di wilayah tersebut. Namun, kantor media yang berpusat di Gaza menyebutkan data yang berbeda, bahwa Israel akan membebaskan 1.737 tahanan, termasuk wanita dan anak-anak, serta hampir 300 warga Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup.
Disisi lain, pada Sabtu (18/1), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan kekhawatirannya terkait keterlambatan pengiriman daftar nama sanderayang akan dibebaskan oleh Hamas. Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akanmelanjutkan kesepakatan jika daftar tersebut tidak segera diterima. Netanyahu juga memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata ini tidakakan ditoleransi dan Hamas harus bertanggung jawab penuh. Israel berharap bisamelanjutkan gencatan senjata sesuai dengan rencana yang telah disepakati.
Sementara itu, warga Gaza menyambut gembira kesepakatan ini, dan terlihatmerayakan gencatan senjata di beberapa titik di Jalur Gaza. Meski demikian, ketegangan masih terasa, mengingat tantangan besar dalam merealisasikankesepakatan tersebut ditengah sejarah pelanggaran perjanjian sebelumnya. Gencatansenjata ini memberikan harapan bahwa konflik panjang antara Israel dan Hamas dapatdihentikan dan membuka peluang untuk rekonstruksi Gaza yang telah dihancurkan oleh perang. Namun, masih ada ketidakpastian apakah kedua pihak dapat mematuhiperjanjian ini dalam jangka panjang.