Pendukung Presiden Yoon Sook-Yeol Terobos Masuk Gedung Pengadilan Seoul
Pada 19 Januari 2025 ratusan demonstran pendukung Presiden Yoon Sook-yeol menerobos masuk Gedung Pengadilan Tinggi Distrik Barat Seoul setelah mereka memutuskan untuk memperpanjang masa penahanan mantan Presiden Yoon. Dilansir dari the Guardian para demonstran menerobos masuk gedung pengadilan tinggi dan merusak fasilitas dalam gedung seperti perabotan dan peralatan elektronik. Para demonstran juga menggunakan alat pemadam api untuk menerobos barikade Pasukan Anti Huru-Hara Kepolisian Nasional Korea Selatan (NPA) yang menjaga pintu depan gedung pengadilan tinggi. Selain itu para demonstran juga menyerang jurnalis dari media massa seperti MBS dengan mengintimidasi dan merusak peralatan mereka. Beberapa jam setelah para demonstran menerobos gedung pengadilan tinggi bala bantuan NPA berhasil mengamankan gedung dan menangkap sekitar 46 demonstran. Setelah mengamankan gedung Badan Kepolisian Metropolitan Korea Selatan menyatakan bahwa mereka akan memburu semua individu yang terlibat dalam insiden tersebut.
Menanggapi insiden ini Presiden Ad Interim Korea Selatan Choi Sang-mok menyatakan keprihatinannya terhadap kekerasan yang terjadi. Presiden Ad Interim Choi menambahkan bahwa dia memerintahkan NPA untuk melancarkan investigasi menyeluruh dan mengendalikan seluruh demonstrasi yang mendesak pembebasan mantan Presiden Yoon. Selain itu Kepala Ad Interim NPA menyatakan bahwa kepolisian juga akan melakukan investigasi komprehensif terhadap Youtuber dan streamer sayap kanan jika mereka terlibat dalam insiden tersebut.Sementara itu pengacara dan kolumnis politik Yoo Jung-hoon menyatakan bahwa penyeranganterhadap pengadilan tinggi Korea Selatan merupakan sesuatu yang tidak terduga dan siapapun yang terlibat akan mendapatkan hukuman penjara. Sebelumnya mantan Presiden Yoon ditangkap oleh tim penyidik gabungan dari Badan Investigasi Korupsi untuk Pejabat Tinggi (CIO) pada 15 Januari 2025. Penangkapan tersebut dilakukan setelah Pengadilan Tinggi Distrik Barat Seoul menyetujui surat penangkapan karena mereka menganggap Yoon dapat menghancurkan barang bukti.
Saat ini mantan Presiden Yoon sedang diselidiki oleh CIO dan berpotensi menghadapi tuntutan pemberontakan akibat dari deklarasi militer yang disiarkan pada 3 Desember 2024. Berdasarkan hukum Korea Selatan, pemberontakan merupakan salah satu dari beberapakejahatan yang dapat ditudukan kepada presiden Korea Selatan. Jika terbukti bersalah mantan Presiden Yoon terancam hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati.