Ketegangan Rusia dan NATO memasuki fase yang semakin berbahaya bukan karena terdapat kepastian bahwa kedua pihak telah memutuskan untuk berperang secara langsung, melainkan karena masing-masing membangun kebijakan keamanan berdasarkan kemungkinan terburuk tentang tindakan pihak lain. Rusia menempatkan perluasan kemampuan militer NATO di Eropa sebagai bagian dari tekanan strategis terhadap keamanannya, sementara negara-negara NATO memandang invasi Rusia ke Ukraina, modernisasi kekuatan militernya, serta meningkatnya aktivitas hibrida sebagai alasan bahwa pertahanan Eropa harus diperkuat. Ketika ketakutan terhadap kemungkinan masa depan mulai menentukan kebijakan hari ini, kemampuan militer perlahan mengambil alih ruang yang sebelumnya masih tersedia bagi kepercayaan politik.
Pola tersebut memperlihatkan logika yang dijelaskan Robert Jervis mengenai kesulitan membedakan kemampuan ofensif dan defensif dalam lingkungan yang dipenuhi ketidakpastian. Negara memang mengetahui jumlah pasukan, rudal, pangkalan, atau sistem pertahanan lawannya, tetapi tidak pernah benar-benar dapat memastikan bagaimana kemampuan itu akan digunakan beberapa tahun kemudian. Akibatnya, pengambil keputusan lebih mudah mempercayai kemampuan material yang dapat diamati dibandingkan pernyataan damai yang sewaktu-waktu dapat berubah. Dalam hubungan Rusia-NATO, persoalannya kemudian bukan hanya siapa memiliki kekuatan lebih besar, tetapi bagaimana setiap peningkatan kekuatan mengubah persepsi, kalkulasi risiko, dan kebutuhan pihak lain untuk kembali meningkatkan pertahanannya.
Dorongan Eropa memperbesar kemampuan militernya memiliki konteks yang jelas karena invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022 telah mengubah asumsi keamanan kawasan secara fundamental, sehingga menjelaskan spiral ketidakamanan tidak boleh berubah menjadi anggapan bahwa tindakan Rusia dan NATO mempunyai titik awal atau tanggung jawab yang sama. Namun, setelah lingkungan strategis tersebut terbentuk, respons keamanan mulai memiliki dinamika tersendiri. SIPRI mencatat belanja militer Eropa meningkat 14 persen menjadi sekitar 864 miliar dolar AS pada 2025, sedangkan Rusia menghabiskan sekitar 190 miliar dolar atau 7,5 persen PDB. NATO pada KTT Ankara Juli 2026 juga menegaskan peningkatan produksi pertahanan dan implementasi target investasi pertahanan yang lebih besar.
Besarnya peningkatan kemampuan tersebut menghasilkan persoalan yang lebih rumit daripada sekadar perlombaan belanja militer, sebab kekuatan yang dibangun untuk mencegah agresi sekaligus dapat mengubah cara lawan memperkirakan ancaman masa depan. Negara-negara NATO di Eropa Timur membutuhkan pertahanan udara, drone, amunisi, dan infrastruktur yang lebih kuat karena merasa rentan terhadap Rusia, tetapi Moskow dapat memasukkan kemampuan yang semakin permanen itu ke dalam perencanaan militernya sendiri. Semakin Rusia merespons, semakin kuat pula argumen negara-negara Eropa bahwa kekhawatiran mereka sejak awal memang benar. Lingkaran semacam ini dapat menghasilkan proses pembenaran diri ketika tindakan lawan justru terus menyediakan bukti bagi asumsi ancaman masing-masing.
Ancaman yang berkembang di bawah ambang perang terbuka semakin mempersulit pengendalian spiral tersebut karena keputusan politik harus dibuat ketika identitas pelaku, tujuan operasi, dan skala ancaman belum selalu dapat dipastikan dengan cepat. Intelijen pertahanan Denmark pada 24 September menilai Rusia kemungkinan meningkatkan perang hibridanya terhadap NATO dan Barat dalam beberapa bulan mendatang, sementara risiko serangan militer terbatas terhadap negara NATO dinilai masih rendah tetapi meningkat; pada saat yang sama, invasi Rusia terhadap negara NATO tetap dianggap tidak mungkin meski tidak lagi dapat sepenuhnya dikesampingkan. Penilaian seperti ini menunjukkan bahwa persoalan strategis Eropa berada di antara dua ekstrem yakni ancaman tidak cukup pasti untuk disebut perang yang akan segera terjadi, tetapi terlalu serius untuk diabaikan.
Ketidakpastian tersebut menjadi jauh lebih berbahaya ketika infrastruktur sipil mulai diperlakukan sebagai bagian dari medan keamanan, karena serangan terhadap energi, jaringan digital, komunikasi, pelabuhan, atau fasilitas logistik dapat menciptakan tekanan politik untuk merespons tanpa harus menyerupai invasi konvensional. Misalnya Lithuania, membangun perlindungan khusus terhadap gardu listrik strategis di dekat Kaliningrad dengan mempertimbangkan kemungkinan sabotase dan serangan drone. Ketika ruang konflik melebar dari medan tempur menuju infrastruktur kehidupan sehari-hari, perbedaan antara ketahanan sipil dan pertahanan militer semakin kabur, sementara kemungkinan salah membaca sebuah insiden sebagai bagian dari operasi yang lebih luas ikut meningkat.
Spiral ketidakamanan juga tidak hanya dibentuk oleh hubungan Moskow dan negara-negara Eropa, karena ketidakpastian mengenai seberapa jauh Amerika Serikat akan mempertahankan peran militernya di benua tersebut mendorong Eropa memperbesar kapasitas pertahanannya sendiri. Reuters melaporkan bahwa peninjauan keterlibatan militer AS di Eropa dan tekanan Washington agar sekutu mengambil tanggung jawab lebih besar telah mendorong perubahan strategi pertahanan serta diversifikasi pengadaan militer sejumlah negara NATO. Bagi Eropa, otonomi pertahanan yang lebih besar dapat mengurangi ketergantungan terhadap Washington, tetapi bagi Rusia perubahan tersebut juga berarti munculnya kapasitas militer Eropa yang lebih mandiri dan berpotensi bertahan melampaui perubahan pemerintahan di Amerika Serikat.
Lapisan nuklir membuat keseluruhan mekanisme ini lebih sensitif karena kesalahan dalam membaca tujuan lawan dapat menghasilkan konsekuensi yang tidak sebanding dengan insiden awalnya. SIPRI memperkirakan terdapat sekitar 12.187 hulu ledak nuklir di dunia pada Januari 2026 dan mencatat bahwa negara-negara bersenjata nuklir terus melakukan modernisasi ketika pengendalian senjata melemah serta risiko salah kalkulasi meningkat. Berakhirnya New START pada Februari 2026 juga menghilangkan kerangka bilateral terakhir yang membatasi persenjataan nuklir strategis Amerika Serikat dan Rusia, sehingga hubungan kedua kekuatan memasuki periode dengan lebih sedikit instrumen formal untuk mengurangi ketidakpastian. Dalam kondisi semacam ini, persoalan nuklir bukan sekadar siapa memiliki lebih banyak hulu ledak, melainkan bagaimana mencegah krisis konvensional berkembang menjadi situasi ketika masing-masing merasa harus bertindak sebelum kehilangan kemampuan strategisnya.
Bahaya terbesar dari hubungan Rusia-NATO bukan hanya kemungkinan seorang pemimpin secara sadar memerintahkan perang besar, tetapi proses ketika keputusan yang dianggap rasional secara individual menghasilkan ketidakamanan secara kolektif. Rusia meningkatkan kemampuan karena melihat NATO semakin kuat, NATO memperkuat pertahanan karena Rusia semakin terlihat mengancam, negara-negara garis depan meminta perlindungan lebih besar karena merasa paling rentan, sementara setiap tambahan pasukan, rudal, drone, dan fortifikasi menghasilkan informasi baru yang kembali dimasukkan ke dalam kalkulasi ancaman pihak lain. Spiral tersebut dapat terus berlangsung bahkan ketika semua pihak menyatakan bahwa tujuan utamanya adalah mencegah perang.
Memutus spiral ketidakamanan tidak berarti mengurangi kemampuan mempertahankan diri atau mengabaikan tindakan agresif yang telah terjadi, melainkan memastikan bahwa deterensi tidak berdiri sendiri tanpa mekanisme pengendalian eskalasi. Komunikasi militer dalam keadaan krisis, transparansi terhadap latihan tertentu, pencegahan insiden udara dan laut, perlindungan infrastruktur kritis, serta upaya baru dalam pengendalian persenjataan menjadi sama pentingnya dengan penambahan kemampuan militer. Stabilitas tidak lahir hanya ketika kedua pihak takut terhadap kekuatan lawan, tetapi ketika ketakutan tersebut memiliki batas dan kanal pengelolaan. Tanpa itu, Rusia dan NATO dapat terus memperbesar keamanan masing-masing sambil secara paradoks membangun Eropa yang semakin tidak aman bagi keduanya.