Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) membuka babak baru hubungan bilateral melalui pertemuan perdana Comprehensive Strategic Dialogue (CSD), atau Dialog Strategis Komprehensif, di Jakarta pada 21 Agustus 2026. Forum ini dipimpin Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono dan Menteri Luar Negeri RRT Wang Yi. CSD merupakan mekanisme dialog bilateral tingkat menteri yang dibentuk untuk mengevaluasi kerja sama yang telah berjalan serta menentukan prioritas strategis hubungan kedua negara. Mekanisme tersebut disepakati saat kunjungan Sugiono ke Beijing pada April 2025.
Dalam pertemuan perdana tersebut, Indonesia dan Tiongkok mulai membahas Rencana Aksi 2027-2031 sebagai kelanjutan dari Rencana Aksi 2022-2026. Pembahasan mencakup kerja sama politik, ekonomi, maritim, hubungan antarmasyarakat, dan keamanan.
Di bidang ekonomi, kedua negara mendorong peningkatan perdagangan, energi, mineral, dan investasi. Nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok tercatat sekitar 154 miliar dolar Amerika Serikat pada 2025, menunjukkan besarnya posisi Tiongkok sebagai salah satu mitra perdagangan utama Indonesia.
Kerja sama juga diarahkan pada ketahanan pangan dan energi, pengembangan mineral, kecerdasan buatan, serta teknologi maju. Indonesia dan Tiongkok turut membahas penguatan kerja sama maritim, termasuk keselamatan navigasi, riset kelautan, dan keamanan maritim, dengan tetap berpedoman pada hukum internasional.
Di sektor pendidikan, kedua negara mendorong peningkatan kesempatan beasiswa, khususnya bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), yaitu bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika. Kerja sama kesehatan juga mencakup produksi vaksin serta pengembangan teknologi medis.
Dalam isu kawasan, Indonesia dan Tiongkok menegaskan pentingnya peran Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), yaitu organisasi negara-negara Asia Tenggara, serta sentralitas ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan.
CSD perdana tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Tiongkok tidak hanya berfokus pada perdagangan, tetapi semakin mencakup teknologi, energi, pangan, maritim, pendidikan, kesehatan, dan persoalan regional.