Sejarah Dan Revolusi RMA: Dari Era Soviet Hingga Perang Ukraina
Sejak dunia mengalami perkembangan teknologi digital pesat dari dekade 1980an, terjadi sebuah perubahan radikal dalam bagaimana militer di berbagai belahan dunia mengembangkan doktrin, strategi, taktik, dan sistem organisasi untuk menghadapi musuh mereka. Perubahan radikal ini pada akhirnya melahirkan sebuah konsep yang dikenal sebagai revolution in military affairs (RMA). Konsep ini dikembangkan oleh Marsekal Nikolai Vasilyevich Ogarkov yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Jenderal Militer Uni Soviet pada 1977-1984. Dalam konsep ini Marsekal Ogarkov ingin Militer Uni Soviet untuk melakukan reformasi radikal dengan mengurangi jumlah pasukan untuk merampingkan organisasi yang membengkak, meningkatkan investasi sektor industri pertahanan dalam mengembangkan teknologi terbaru, serta mendorong komputerisasi dalam seluruh elemen militer Uni Soviet. Konsep ini digagas oleh Marsekal Ogarkov karena perkembangan teknologi digital akan menyebabkan banyak pemikiran ortodoks untuk ditinggalkan karena musuh memiliki kemampuan untuk menyerang belasan target taktis dan strategis sekaligus dengan persenjataan presisi tinggi. Selain itu, koordinasi antar matra akan dipermudah dengan sistem komunikasi jaringan dan satelit yang mampu menjangkau wilayah lebih luas.
Tidak lama setelah Marsekal Ogarkov menggagas RMA, Pentagon Amerika Serikat mengembangkan dan pada akhirnya mengimplementasikannya di Perang Teluk yang mana saat itu, pasukan koalisi pembebasan Kuwait berhasil menghancurkan sebagian besar Tentara Ba’ath Irak dengan berbagai senjata presisi tinggi yang diluncurkan pesawat tempur, kendaraan darat, dan kapal laut. Selain menghancurkan target dengan presisi tinggi, pasukan koalisi juga mampu berkoordinasi dengan berbagai matra karena adanya sistem komunikasi satelit terintegrasi sehingga mereka dapat bertempur sebagai sebuah kesatuan. Efektivitas dari konsep ini di Perang Teluk pada akhirnya mendorong berbagai negara untuk menggunakan konsep RMA sebagai dasar pengembangan postur pertahanan yang lebih relevan sekaligus mendorong reorganisasi militer untuk mengakomodasi perkembangan teknologi baru.
Tiga setengah dekade sejak konflik tersebut rampung, konsep RMA telah mengalami perkembangan signifikan akibat dari invasi Rusia terhadap Ukraina yang terjadi pada 24 Februari 2022. Perkembangan ini terjadi karena terdapat berbagai aset baru yang digunakan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina (ZSU) dan Militer Rusia (RF) sebagai force multiplier seperti first person view (FPV) drone, unmanned ground vehicle (UGV), dan sistem manajemen medan tempur (BMS) generasi baru seperti DELTA. Seluruh aset force multiplier ini telah menunjukkan efektivitasnya dalam perang yang hingga saat ini masih berlangsung dan dalam latihan berama dengan Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO), spesifiknya latihan bersama Hedgehog 2025. Dalam Latihan bersama Hedgehog 2025, yang mempertemukan lebih dari 16.000 personel dari 12 negara Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Dalam latihan tersebut, satu tim kecil berisi sekitar sepuluh operator drone ZSU yang memanfaatkan sistem DELTA berhasil melumpuhkan dua batalion NATO. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini perkembangan teknologi canggih telah mencapai sebuah titik baru yang mana seorang serdadu kini mampu untuk menghancurkan beberapa aset strategis musuh sekaligus hanya dengan menggunakan drone kecil yang dilengkapi dengan peledak. Kapabilitas ini, diperkuat dengan adanya sistem komunikasi generasi baru seperti DELTA, mampu memberikan satu regu kemampuan untuk menghadapi beberapa batalion musuh. Hal ini merupakan perkembangan signifikan karena keberadaan drone yang dibantu dengan BMS generasi baru telah menyebabkan perubahan fundamental dalam hal domain awareness medan pertempuran dari yang sebelumnya bersifat siloed dan terbatas menjadi transparansi absolut.
Seluruh hal ini dapat dianggap sebagai pencetus reformasi atau revolusi RMA karena sebelum Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, tidak ada yang menganggap bahwa drone FPV yang diproduksi secara massal dapat memberikan dampak strategis di medan pertempuran. Efektivitas ini pada akhirnya menciptakan efek berantai yang mana berbagai negara, baik itu sekutu atau rival Ukraina, mulai meninggalkan pemikiran lama tentang perang modern dengan mempelajari secara saksama bagaimana mereka dapat mengerahkan aset-aset mereka secara efektif sekaligus menggerus efektivitas musuh. Sebagai studi kasus, pasca berakhirnya latihan bersama Hedgehog 2025, NATO berupaya untuk memastikan bahwa pasukan mereka siap untuk menghadapi perang modern dengan melakukan reformasi struktural komprehensif. Reformasi yang hingga saat ini sedang berlanjut mencakup penyesuaian doktrin dan taktik, percepatan adaptasi BMS generasi baru di setiap level komando, dan meningkatkan investasi dalam industri pertahanan domestik untuk mengembangkan drone kecil yang dapat digunakan sebagai pengintai sekaligus penyerang.
Akan tetapi, upaya ini telah mendapatkan pertentangan dari berbagai elemen yang mencakup sektor militer dan non-militer. Dalam sektor militer, pertentangan ini ada karena dua hal yakni anggapan bahwa NATO tidak seharusnya mengadaptasikan seluruh pelajaran dari Ukraina serta pandangan bahwa integrasi drone kecil dan BMS generasi baru dalam struktur komando pasukan terlalu terburu-buru. Sementara itu dalam sektor non-militer, khususnya dalam industri pertahanan, terdapat keengganan untuk mengembangkan drone kecil karena mereka masih menganggap persenjataan teknologi tinggi dengan waktu produksi lama masih memiliki ruang di medan tempur modern.