Bencana alam kerap dipahami sebagai peristiwa kemanusiaan yang menuntut solidaritas lintas negara. Namun, bantuan bencana juga memiliki dimensi lain yang turut membentuk bagaimana suatu negara dipersepsikan oleh dunia. Pergeseran ini terlihat jelas dalam kebijakan luar negeri China. Jika pada dekade sebelumnya Beijing lebih dikenal lewat pembangunan infrastruktur melalui Belt and Road Initiative (BRI), beberapa tahun terakhir China semakin aktif mengirim bantuan kemanusiaan, tenaga kesehatan, dan tim penyelamat ke berbagai negara yang dilanda krisis. Kehadiran ini menunjukkan bahwa pengaruh internasional tidak selalu dibangun lewat kekuatan ekonomi atau militer, melainkan juga lewat kemampuan hadir ketika negara lain menghadapi situasi paling sulit.
Dalam konsep New Public Diplomacy yang dikemukakan Jan Melissen dijelaskan bahwa diplomasi modern tidak lagi hanya berlangsung di meja perundingan antarpemerintah, melainkan juga dibangun melalui interaksi langsung dengan masyarakat, termasuk lewat kerja sama kemanusiaan. Dalam konteks ini, bantuan bencana bukan sekadar bentuk solidaritas, melainkan juga cara membangun kepercayaan dan memperkuat citra sebuah negara di mata dunia.
Perubahan pendekatan ini mulai terlihat jelas saat pandemi COVID-19. Ketika banyak negara mengalami kelangkaan masker, alat pelindung diri, ventilator, dan vaksin, China aktif menyalurkan bantuan kesehatan ke berbagai kawasan. Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut langkah ini sebagai mask diplomacy dan vaccine diplomacy. Namun penilaian CSIS sesungguhnya lebih kritis daripada sekadar mencatat adanya bantuan.
Berdasarkan Chinese Covid-19 Diplomacy Index (CCDI) yang disusun dari ribuan titik data, diplomasi kesehatan China dinilai bukan terutama didasarkan pada kebutuhan kemanusiaan semata, melainkan kalkulasi politik-strategis untuk mempererat maupun membangun hubungan baru, dan kerap disertai harapan agar negara penerima menunjukkan sikap berterima kasih. Hasilnya pun beragam: bantuan ini berhasil memperkuat pengaruh China di negara seperti Kamboja, Mongolia, dan Serbia, tetapi gagal dikonversi menjadi keuntungan politik di negara lain, termasuk Paraguay yang tetap mempertahankan hubungan resminya dengan Taiwan.
Pola ini terus berlanjut pascapandemi dilihat saat gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Myanmar pada Maret 2025 dan menewaskan lebih dari 3.600 orang, China menjadi salah satu negara pertama mengirim tim penyelamat, tenaga medis, dan bantuan darurat, lalu meningkatkan komitmennya menjadi sekitar 137 juta dolar AS untuk pangan, obat-obatan, hunian sementara, dan rekonstruksi. Reuters mencatat respons ini kian menonjol karena bertepatan dengan absennya Amerika Serikat, yang secara historis kerap menjadi salah satu negara pertama merespons bencana besar, setelah hampir seluruh staf United States Agency for International Development (USAID) yaitu Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat diberhentikan pemerintahan Trump hanya beberapa jam setelah gempa terjadi. Kekosongan yang ditinggalkan aktor lain ini memperbesar ruang pengaruh bagi negara yang mengisinya.
Kemudian pola serupa juga terlihat pada banjir besar yang melanda Pakistan pada Agustus 2022, ketika China mengirim puluhan ribu tenda, selimut, terpal, dan bantuan pangan senilai total sekitar 400 juta yuan, serta gempa yang mengguncang Turki dan Suriah pada Februari 2023, ketika Beijing mengirim tim penyelamat beranggotakan 82 orang lengkap dengan peralatan pencarian dan medis.
Dalam setiap peristiwa tersebut, bantuan memang ditujukan untuk meringankan penderitaan masyarakat terdampak, namun pada saat yang sama juga memperkuat citra China sebagai negara yang tanggap terhadap krisis internasional. Di sinilah konsep Melissen menjadi relevan karena diplomasi modern tidak hanya diukur dari keberhasilan menyusun perjanjian, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan emosional dengan masyarakat internasional lewat pengalaman langsung penerima bantuan kesan yang sering kali lebih kuat dibandingkan komunikasi diplomatik di ruang konferensi.
Walaupun seperti itu, diplomasi bencana China juga memunculkan perdebatan. Data CCDI menjadi salah satu bukti empiris bahwa bantuan kemanusiaan tidak sepenuhnya lepas dari kepentingan geopolitik karena negara-negara yang secara politik dan ekonomi dekat dengan Beijing, terutama di sepanjang perbatasannya dan di Afrika sub-Sahara, cenderung memperoleh perhatian yang lebih besar. Namun, memandang seluruh bantuan kemanusiaan semata-mata sebagai alat politik juga merupakan penyederhanaan.
Pada situasi darurat, korban tetap memperoleh manfaat nyata yaitu tim penyelamat membantu evakuasi, tenaga medis menangani korban, dan bantuan logistik mempercepat pemulihan. Dimensi kemanusiaan dan kepentingan strategis tidak selalu saling meniadakan dalam praktik hubungan internasional, keduanya justru sering berjalan bersamaan.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa makna soft power mengalami perluasan. Selama ini soft power identik dengan budaya populer, pendidikan, atau industri hiburan dan sekarang kini kemampuan merespons bencana juga menjadi sumber pengaruh yang semakin penting. Bagi China, hal ini menjadi pelengkap diplomasi ekonomi yang selama ini mendominasi kebijakan luar negerinya, seiring meluasnya kepentingan Beijing di berbagai kawasan dunia.
Diplomasi bencana menunjukkan bahwa persaingan antarnegara tidak lagi hanya berlangsung lewat perdagangan, investasi, atau kekuatan militer, melainkan juga lewat kemampuan merespons krisis kemanusiaan secara cepat. langkah China mengirim bantuan kesehatan, tim penyelamat, dan dukungan rekonstruksi merupakan upaya membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat internasional.
Bantuan tersebut memang memiliki nilai kemanusiaan, tetapi pada saat yang sama juga memperkuat posisi diplomatik China di berbagai kawasan, meskipun hasilnya seperti ditunjukkan data CCDI yang tidak selalu merata maupun berhasil. Diplomasi modern tidak selalu dimulai dari ruang perundingan, dalam banyak keadaan ia justru hadir di tengah puing bangunan yang runtuh dan masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari bencana. Di ruang-ruang itulah China sedang membangun bentuk pengaruh yang berbeda, bukan dengan menunjukkan kekuatan, melainkan dengan menunjukkan kehadiran.