Pada 19 April 2026, Pasukan Keamanan Suriah (GSS) dengan bantuan Badan Intelijen Nasional (GIS) Suriah menyatakan bahwa mereka telah berhasil melancarkan operasi kontra-terorisme yang menggagalkan upaya sabotase dari kelompok milisi Hezbollah. Akibat dari operasi ini, setidaknya lima anggota milisi Hezbollah berhasil ditangkap di Provinsi Quneitra. Selain itu sebuah truk sipil yang dimodifikasi untuk menembakkan artileri roket (MLRS) kaliber 107mm berhasil diamankan oleh pasukan GSS. Berdasarkan pernyataan yang diberikan oleh Kemendagri Suriah, sel Hezbollah yang ditugaskan untuk melakukan aksi sabotase berencana memodifikasi kendaraan sipil guna menembakkan roket terhadap target tertentu. Akan tetapi, Kemendagri Suriah tidak menyatakan target yang akan diserang oleh sel tersebut. Serangan ini diklaim memiliki tujuan untuk memperburuk situasi keamanan Suriah.
Menanggapi perkembangan tersebut, Hezbollah menyatakan bahwa mereka menolak tuduhan tidak berdasar yang diberikan oleh Kemendagri Suriah. Hezbollah menekankan bahwa saat ini mereka tidak memiliki kehadiran di wilayah Suriah. Selain itu Hezbollah juga mendesak pemerintah Suriah untuk melakukan investigasi menyeluruh sebelum menyampaikan tuduhan terhadap kelompok mereka. Kelompok tersebut menyalahkan kehadiran badan intelijen asing yang berusaha untuk memperburuk ketegangan antara Hezbollah dan Suriah. Selain itu, Hezbollah menyampaikan bahwa mereka tetap berkomitmen untuk melawan musuh utama yaitu Israel guna mempertahankan kedaulatan Lebanon dan keselamatan rakyatnya.
Ketegangan antara Pemerintah Transisi Suriah (STG) dan Hezbollah telah mengalami peningkatan signifikan setelah runtuhnya rezim Assad dua tahun sebelumnya. Ketegangan tersebut ada karena pada perang saudara Suriah, Hezbollah secara aktif mengirimkan pasukan dan bantuan material kepada rezim Assad untuk menghancurkan kelompok pemberontak. Bantuan tersebut diberikan karena pada saat itu, Assad merupakan bagian dari blok ‘Poros Pemberontakan’ yang dipimpin oleh Republik Islam Iran. Tuduhan terbaru yang diberikan oleh STG terhadap Hezbollah terjadi satu minggu setelah mereka mengklaim kelompok ini sedang merencanakan pembunuhan terhadap Rabbi Michael Khoury di perumahan Damaskus. Rencana tersebut, seperti upaya sabotase yang terbaru, diklaim memiliki tujuan serupa yaitu untuk menggerus stabilitas Suriah pasca runtuhnya Assad. Dilansir dari FDD, argumen tersebut memiliki dasar kuat karena Rabbi Khoury merupakan salah satu tokoh Yahudi pertama yang mengunjungi Suriah setelah kemenangan kelompok pemberontak. Selain itu, Rabbi Khoury juga mendorong pembukaan kembali Sinagoge Elfrange yang ditutup akibat dari emigrasi massal kaum Yahudi Suriah.