China kembali menaikkan anggaran pertahanan pada 2026 sebesar 7 persen, menjadi 1,9 triliun yuan. Pemerintah Beijing menyatakan bahwa kenaikan ini bertujuan untuk modernisasi militer, menjaga kedaulatan nasional, dan meningkatkan kapasitas strategis. Meski pertumbuhan persentasenya lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya, jumlah absolutnya tetap signifikan. Hal ini merupakan langkah China di tengah peningkatan geopolitik di wilayah Asia Pasifik, terutama terkait Taiwan dan persaingan strategis dengan Amerika Serikat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kenaikan anggaran militer China tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang hubungan antara kekuatan militer, ekonomi domestik, dan posisi negara di panggung global. Fenomena ini menunjukkan bagaimana kebijakan ekonomi, politik, dan pertahanan saling terkait, sehingga anggaran militer China berfungsi sebagai instrumen strategi ekonomi-politik.
Kenaikan anggaran pertahanan China tidak bisa dilihat secara absolut dari pandangan keamanan militer. Dalam perspektif ekonomi politik Susan Strange, belanja militer sering terkait erat dengan kepentingan ekonomi domestik dan posisi negara di arena internasional. Anggaran militer yang besar dapat mendukung industri pertahanan, menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi teknologi, dan memperkuat kapasitas negara untuk memproyeksikan pengaruh global.
Dalam konteks China, alokasi anggaran pertahanan mendukung modernisasi Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army / PLA) sekaligus memperkuat sektor industri strategis. Investasi pada sistem persenjataan canggih, kapal perang, drone, dan teknologi militer tinggi merangsang penelitian dan pengembangan dalam bidang teknologi tinggi, sekaligus meningkatkan kapasitas produksi industri strategis. Dengan demikian, anggaran militer tidak hanya memperkuat kemampuan pertahanan, tetapi juga berperan sebagai stimulan ekonomi yang strategis.
Selain dampak domestik, kebijakan ini memiliki implikasi regional dan global. Negara tetangga menilai peningkatan belanja pertahanan China bukan hanya dari sisi keamanan, tetapi juga sebagai sinyal posisi China dalam percaturan ekonomi dan politik internasional. Misalnya, kemampuan militer yang kuat memungkinkan China untuk mengamankan jalur perdagangan vital, termasuk Laut China Selatan. Keamanan jalur perdagangan ini penting bagi stabilitas ekspor-impor, yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi domestik. Dengan demikian, anggaran militer memiliki fungsi sebagai alat untuk menjaga kepentingan ekonomi strategis sekaligus memperkuat posisi tawar China dalam negosiasi internasional.
Selain itu, peningkatan anggaran pertahanan juga terkait dengan legitimasi politik domestik. Pemerintah menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi, ketimpangan regional, dan kebutuhan untuk mempertahankan stabilitas sosial. Menekankan modernisasi militer dan kapasitas pertahanan yang meningkat memungkinkan pemerintah menunjukkan kemampuan melindungi kedaulatan nasional. Ini membantu memperkuat legitimasi politik dan menjaga dukungan publik. Dalam konteks ekonomi politik, ini menegaskan hubungan timbal balik antara alokasi sumber daya negara, tujuan politik, dan stabilitas ekonomi.
Namun, kenaikan anggaran pertahanan juga berpotensi menimbulkan ketegangan di kawasan. Negara tetangga yang melihat penguatan militer China mungkin merasa perlu memperkuat anggaran militer mereka sendiri, menciptakan kompetisi dan peningkatan belanja militer regional. Dalam perspektif ekonomi politik, ini menimbulkan biaya tambahan bagi negara lain, termasuk alokasi sumber daya yang bisa digunakan untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Sementara China memandang belanja pertahanan sebagai investasi strategis, negara lain bisa menafsirkannya sebagai ancaman, sehingga menimbulkan dinamika kompetisi yang berdampak pada ekonomi dan politik regional.
Alokasi sumber daya domestik menjadi pertimbangan penting lainnya. Pertumbuhan ekonomi China melambat, sementara kebutuhan signifikan masih ada dalam sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur sosial. Keputusan untuk menambah anggaran militer harus mempertimbangkan keseimbangan antara pertahanan dan pembangunan sosial-ekonomi agar tidak menimbulkan ketegangan internal. Efektivitas strategi ini bergantung pada kemampuan pemerintah menyeimbangkan kebutuhan pertahanan dengan prioritas pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Di tingkat internasional, anggaran militer yang meningkat memperkuat posisi tawar China dalam hubungan bilateral maupun multilateral. Negara-negara yang terlibat dalam perdagangan dan aliansi strategis harus mempertimbangkan kapasitas militer China saat mengambil keputusan politik dan ekonomi. Dengan demikian, kebijakan pertahanan China berfungsi sebagai instrumen yang memadukan kekuatan militer dengan kepentingan ekonomi dan pengaruh diplomatik.
Secara keseluruhan, kenaikan anggaran pertahanan China merupakan tindakan strategis yang melibatkan dimensi militer, ekonomi, dan politik. Penggunaan anggaran militer sebagai alat untuk memperkuat industri strategis, menjaga jalur perdagangan, dan mempertahankan legitimasi domestik menunjukkan keterkaitan antara kebijakan pertahanan dan kepentingan ekonomi. Hal ini menegaskan bahwa kebijakan pertahanan modern tidak dapat dipisahkan dari konteks ekonomi-politik nasional maupun global.
Namun, langkah ini berpotensi memicu respons negara tetangga berupa peningkatan belanja militer mereka sendiri, yang menimbulkan ketegangan regional dan biaya ekonomi tambahan. Di sisi domestik, alokasi sumber daya untuk pertahanan harus diimbangi dengan kebutuhan sektor sosial dan pembangunan ekonomi untuk menjaga stabilitas. Dengan demikian, kenaikan anggaran pertahanan China harus dipahami sebagai bagian dari strategi ekonomi-politik yang menyatukan kekuatan militer, kepentingan ekonomi, dan posisi politik di tingkat domestik maupun global. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan China menyeimbangkan antara keamanan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas regional.