Industri Captagon Suriah Terkekang Akibat Runtuhnya Rezim Assad
Pada 23 Desember 2025 Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Isu Narkoba dan Kejahatan (UNODC) menerbitkan laporan yang menyatakan industri Captagon telah dikekang akibat aksi yang dilakukan oleh Pemerintah Transisi Suriah (STG) sejak runtuhnya rezim Assad. Dalam laporan tersebut, UNDOC menyatakan bahwa sejauh ini STG telah menghancurkan setidaknya 15 laboratorium produksi Captagon skala besar dan 13 gudang penyimpanan narkoba sejak 8 Desember 2024. Laporan UNODC juga menyatakan aksi pencegatan yang dilakukan oleh STG dan negara lain di kawasan Timur Tengah telah membuahkan hasil karena setidaknya 177 juta tablet Captagon berhasil disita oleh otoritas terkait. Direktur Operasi UNODC Bo Mathiasen menyatakan kolaborasi antar negara, pertukaran informasi intelijen, dan operasi pencegatan bersama telah berhasil menyita lebih banyak pil Captagon pada tahun 2025.
Akan tetapi, laporan ini tidak dapat mengkonfirmasi tentang kemungkinan bahwa sebagian dari industri Captagon Suriah memindahkan lokasi produksi mereka ke benua lain seperti Afrika. Selain itu laporan UNODC juga memberikan peringatan jaringan penyelundupan narkoba akan berpotensi untuk kembali mengedarkan narkoba sintesis jenis Sabu Metamfetamin jika jumlah pil Captagon tidak dapat cukup untuk memenuhi permintaan pasar. Agar hal tersebut dapat diantisipasi, UNODC mendorong negara yang terdampak untuk mempelajari faktor yang menyebabkan permintaan Captagon cukup tinggi. Selain itu laporan ini juga menyatakan bahwa pengedaran Captagon dari Suriah masih berlangsung karena masih terdapat stok pil yang dapat mencukupi permintaan pasar.
Akibat dari perang saudara yang menyebabkan kerusakan besar terhadap perekonomian Suriah, rezim Bashar Al-Assad memutuskan untuk mengembangkan industri narkoba Captagon pada tahun 2018-2019 agar Negeri Al-Sham dapat memiliki sumber pemasukan. Dalam hal ini, sekutu dan anggota keluarga Dinasti Al-Assad berinvestasi untuk mengembangkan fasilitas produksi, memperbesar gudang penyimpanan, dan memperkokoh jaringan penyelundupan. Dilansir dari VOA News, rezim Assad mendapatkan setidaknya USD 10 miliar per tahun dari perdagangan Captagon di seluruh kawasan Timur Tengah. Akibat dari keputusan tersebut, Amerika Serikat dan Uni Eropa (EU) menjatuhkan sanksi terhadap Bashar Al-Assad dan tokoh lain yang terlibat dalam perdagangan Captagon.