Pada 8 Desember 2025 masyarakat Suriah di berbagai kota seperti Damaskus, Homs, Hama, dan Aleppo turun ke jalan untuk merayakan hari pembebasan nasional. Hari ini dirayakan karena tahun sebelumnya, kelompok insurgensi Tentara Pembebasan Suriah (FSA) berhasil meruntuhkan rezim Bashar Al-Assad dan Partai Ba’ath yang telah berkuasa selama 61 tahun. Perayaan ini diiringi dengan parade militer yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) Suriah di beberapa provinsi. Selain parade tersebut, Presiden Ad Interim Suriah Ahmed Al-Sharaa menyampaikan dalam sebuah konferensi pers bahwa hari ini menandakan satu tahun sejak Suriah dibebaskan dari kediktatoran dan tirani dinasti Al-Assad. Presiden Al-Sharaa menambahkan bahwa Suriah yang baru akan menghadapi semua tantangan agar dapat dibangun Negeri Al-Sham yang kuat, berdaulat, serta adil dan hadir untuk semua warga nya.
Menanggapi hal tersebut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyampaikan selamat kepada ketahanan, keteguhan, dan keberanian masyarakat Suriah yang telah melewati perang saudara selama 14 tahun. Sekjen Guterres juga menyatakan bahwa Suriah memiliki peluang untuk membangun negara baru yang lebih adil dan makmur. Akan tetapi peluang ini menghadapi berbagai tantangan besar seperti minimnya infrastruktutr, krisis biaya hidup yang semakin tinggi, keterbatasan pemerintah dalam melakukan rekonstruksi, dan pesimisme kaum minoritas terhadap transparansi dan komitmen kesetaraan. Selain itu terdapat juga realita bahwa pemerintah ad interim Suriah tidak sepenuhnya menguasai Negeri Al-Sham karena wilayah utara masih dikendalikan oleh kelompok Administrasi Demokratik Otonom Suriah Utara dan Timur (AANES). Sementara itu sebagian wilayah selatan Suriah masih dikendalikan oleh kelompok Druze dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Walaupun demikian masyarakat Suriah tetap optimis terhadap masa depan karena telah dilakukan berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah ad interim untuk meningkatkan legitimasi dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat Negeri Al-Sham. Upaya tersebut diantaranya adalah meningkatkan gaji pegawai negeri sipil (PNS) dari USD 15 menjadi USD 65 per bulan, memperbaiki jaringan listrik nasional, dan memastikan ketersediaan listrik hingga 24 jam.