Kemampuan militer China untuk melancarkan serangan terhadap wilayah Australia diperkirakan akan meningkat secara signifikan dalam sepuluh tahun mendatang. Meski demikian, ancaman yang paling mungkin dihadapi Canberra dalam waktu dekat bukan berupa serangan konvensional, melainkan gangguan siber dan sabotase terhadap infrastruktur komunikasi bawah laut.
Hal tersebut diungkap dalam laporan terbaru Lowy Institute, lembaga kajian independen yang berbasis di Sydney. Menurut laporan tersebut, modernisasi militer China yang terus berlangsung berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik.
Lowy Institute menyoroti pengembangan pesawat pengebom siluman jarak jauh baru oleh Beijing, serta kemungkinan penempatan rudal dan pesawat tempur di pangkalan-pangkalan yang lebih dekat dengan Australia. Jika China berhasil memperoleh akses pangkalan militer permanen di negara-negara Kepulauan Pasifik, wilayah Australia bagian tengah dapat berada dalam jangkauan operasi pembom China dan memungkinkan serangan dilakukan dengan frekuensi lebih tinggi.
Namun, laporan tersebut menekankan bahwa ancaman jangka pendek lebih mungkin muncul melalui operasi non-konvensional. China dinilai memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur perdagangan maritim Australia melalui titik-titik strategis di kepulauan Indonesia, serta menyerang kabel komunikasi bawah laut yang menjadi tulang punggung konektivitas digital negara tersebut. Selain itu, Beijing disebut telah memiliki kemampuan untuk menjangkau Australia utara melalui sistem rudal yang ditempatkan di pos-pos militernya di Laut China Selatan.
Meski hubungan diplomatik kedua negara membaik sejak pemerintahan Partai Buruh berkuasa di Australia pada 2022, Canberra tetap mewaspadai meningkatnya pengaruh China di Pasifik Selatan. Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan upaya Beijing menjalin kerja sama keamanan dengan negara-negara Pasifik.
Lowy Institute menegaskan bahwa pembangunan kekuatan militer China akan terus membentuk dinamika keamanan Indo-Pasifik, terlepas dari ada atau tidaknya niat Beijing untuk menyerang Australia secara langsung.