Macron Akan Temui Trump di Tengah Respons Eropa terhadap Perubahan Sikap AS soal Ukraina
Presiden Prancis Emmanuel Macron diperkirakan akan bertemu dengan Donald Trump di Gedung Putih minggu depan, menurut seorang pejabat AS pada hari Rabu (26/2). Pertemuan ini terjadi di tengah upaya Eropa merespons perubahan kebijakan presiden AS terkait perang di Ukraina, yang menyebabkan kegelisahan di kalangan negara-negara sekutu. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga mengumumkan bahwa ia akan bertemu dengan utusan AS, Keith Kellogg. Zelensky berharap bahwa pertemuan tersebut akan menghasilkan kerja sama yang “konstruktif” dengan AS, mengingat semakin meningkatnya ketidakpastian dalam dukungan Barat terhadap negaranya.
Macron, yang telah lama menyuarakan kekhawatiran terhadap ancaman Rusia, mengadakan pertemuan darurat dengan para pemimpin dari 19 negara, termasuk Kanada, untuk mengkoordinasikan respon Eropa terhadap perubahan kebijakan Washington. Dalam pertemuan ini, Macron menegaskan bahwa hak Ukraina serta kepentingan keamanan Eropa harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa Prancis dan Inggris sedang mempertimbangkan untuk mengirim “pakar atau bahkan pasukan dalam jumlah terbatas” ke Ukraina, meskipun tidak di zona konflik. Macron menekankan bahwa tujuan utama adalah memastikan perdamaian yang berkelanjutan dan memberikan jaminan keamanan yang kuat bagi Eropa.
Sikap AS yang tampaknya lebih condong ke Moskow menimbulkan kekecewaan di kalangan negara-negara Eropa, terutama mereka yang tidak diundang dalam pertemuan awal yang diadakan Macron pada hari Senin. Beberapa negara Eropa Timur seperti Rumania dan Republik Ceko mengkritik keputusan tersebut, yang kemudian mendorong Macron untuk mengadakan pertemuan lanjutan dengan lebih banyak negara. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot memperingatkan bahwa Rusia semakin melihat Eropa sebagai musuh, sehingga negara-negara Uni Eropa harus bersiap menghadapi kemungkinan ancaman yang lebih besar. Ia menegaskan bahwa jika Eropa tidak mengambil tindakan, garis depan konflik akan semakin mendekati perbatasan mereka. Sebagai langkah untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow, negara-negara Uni Eropa akhirnya menyetujui putaran baru sanksi terhadap Rusia, menunjukkan tekad mereka untuk tetap mendukung Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan pada hari kamis (20/2) bahwa ia tidak berencana mengirim pasukan ke Ukraina dalam waktu dekat, tetapi mempertimbangkan pengiriman pasukan penjaga perdamaian setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia. Menjelang kunjungannya ke Gedung Putih, ia menyatakan bahwa Prancis memasuki “era baru” dan akan mendesak Presiden AS Donald Trump untuk bersikap tegas terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.