Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pada Senin (6/1/2025) mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Liberal setelah hampir satu dekade menjabat. Trudeau, 53 tahun, akan tetap menjabat sebagai perdana menteri hingga pemimpin partai yang baru terpilih dalam beberapa bulan mendatang.
Trudeau mengutip konflik internal partai dan menurunnya dukungan publik sebagai alasan utama pengunduran dirinya. “Negara ini layak mendapatkan pilihan yang nyata pada pemilu berikutnya,” katanya. Trudeau juga menambahkan bahwa pertikaian internal di dalam partai memperjelas bahwa ia bukan lagi kandidat terbaik untuk memimpin.
Trudeau yang memimpin sejak 2015 lalu sebenarnya membawa harapan dan memenangkan pemilu sebanyak dua kali, menjadikannya salah satu Perdana Menteri yang memimpin terlama di Kanada dan juga mendapat banyak dukungan karena pendekatannya yang mendukung kebijakan berkaitan gender.
Pengunduran diri ini terjadi di saat kondisi sulit Partai Liberal yang tertinggal secara signifikan dalam jajak pendapat. Survei Ipsos baru-baru ini menempatkan oposisi Konservatif dengan dukungan 45%, jauh di depan Partai Liberal dan Partai Demokrat Baru, yang keduanya berada di angka 20%. Meningkatnya biaya hidup, kekurangan tempat tinggal, dan inflasi telah memicu ketidakpuasan pemilih, yang semakin mengurangi popularitas Trudeau. Sebelumnya, dukungan pada Trudeau melonjak tinggi hingga 63 persen namun citra ini menurun signifikan pada tahun 2019 saat foto dan video lama Trudeau di tahun 1990-an dan 2001 menunjukkan dia mewarnai wajahnya hitam dan coklat, menodai reputasinya sebagai pemimpin liberal dan progresif.
Situasi ini memburuk setelah Menteri Keuangan Chrystia Freeland mengundurkan diri bulan lalu, menuduh Trudeau memprioritaskan “tipu muslihat politik” daripada pemerintahan praktis. Kepergian Freeland menyoroti perpecahan yang mendalam di dalam partai, dengan banyak anggota yang secara terbuka menyerukan agar Trudeau mundur.
Untuk mengelola transisi kepemimpinan, Trudeau telah menangguhkan parlemen hingga 24 Maret, menunda pemilihan umum hingga setidaknya bulan Mei. Langkah ini memberikan waktu bagi Partai Liberal untuk memilih pemimpin baru, yang secara otomatis akan mengambil peran sebagai perdana menteri dan memimpin partai menuju pemilihan berikutnya. Namun, partai-partai oposisi, termasuk Konservatif, Demokrat Baru, dan Bloc Québécois, telah mengatakan bahwa mereka akan mengajukan mosi tidak percaya segera setelah parlemen kembali bersidang, yang berpotensi memaksa pemilu yang lebih awal.
Selain itu, mundurnya Trudeau juga bertepatan dengan meningkatnya ketegangan dalam hubungan AS-Kanada. Presiden terpilih Donald Trump telah mengancam untuk memberlakukan tarif 25 persen pada impor Kanada, menciptakan ketidakpastian ekonomi. Situasi ini semakin menggarisbawahi perlunya kepemimpinan yang stabil saat Kanada menghadapi periode kritis ini.