Pada 15 September 2026, Nikkei Asia melaporkan bahwa Jepang sedang merencanakan pengembangan sistem sensor kuantum yang akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan Pasukan Pertahanan Maritim (JMSDF) dalam mendeteksi kapal selam negara rival seperti China. Rencana pengembangan ini akan dimasukkan ke dalam proposal anggaran tahun fiskal 2027 dan jika disetujui, diperkirakan akan rampung pada tahun 2031. Setelah pengembangan rampung, sistem sensor kuantum ini akan dipasang ke drone otonom yang akan diluncurkan dari kapal tempur untuk mendeteksi ancaman bawah laut. Dilansir dari Interesting Engineering, pengembangan sensor ini dianggap sebagai bagian dari upaya Jepang untuk meningkatkan kemampuan deteksi bawah laut mereka dengan mengkomplemen penggunaan sonar pasif/aktif.
Pernyataan ini memiliki basis yang cukup kuat karena sensor kuantum memiliki perbedaan fundamental dibandingkan dengan sonar dalam bagaimana mereka mendeteksi objek di bawah permukaan laut. Sonar secara garis besar melacak sebuah objek bawah laut seperti kapal selam dengan mendengarkan suara atau mengirimkan sinyal yang dapat dipantulkan oleh lambung kapal. Sementara itu, sensor kuantum melacak keberadaan kapal selam dengan mendeteksi perubahan medan magnet yang terjadi akibat dari pergerakan, interaksi material dengan air laut, dan residu arus listrik yang dihasilkan kapal. Walaupun demikian, menurut analis pertahanan Hudson Institute Masashi Murano, sensor ini memiliki kekurangan signifikan yaitu jarak deteksi yang relatif pendek sehingga alat ini tidak bisa digunakan di laut lepas. Akan tetapi, kekurangan ini dapat dimitigasi dengan mengerahkan sensor kuantum di selat yang dapat digunakan oleh kapal selam Angkatan Laut China (PLAN) sebagai koridor transit. Selain itu, Masashi juga mendukung penggunaan drone otonom untuk mengangkut sensor kuantum karena aset ini memiliki efektivitas lebih besar dibandingkan dengan pesawat anti-kapal selam seperti P-1.
Keinginan Jepang untuk meningkatkan kemampuan deteksi ancaman bawah laut merupakan sebuah keharusan karena sejak tahun 2021, China telah meningkatkan produksi kapal selam mereka dengan membangun 10 kapal selam bertenaga nuklir (SSN). Peningkatan produksi ini merupakan bahaya bagi JMSDF yang hanya memiliki 20 kapal selam karena PLAN dapat 58 kapal selam yang mereka milikiuntuk memproyeksikan kekuatan secara senyap.