Pada pertengahan abad ke-19, Jenderal Helmuth von Moltke (Moltke The Elder), Kepala Staf Umum Angkatan Darat Kerajaan Jerman, merumuskan sebuah prinsip yang mengubah cara dunia memandang perang. Moltke percaya bahwa rencana sedetail apapun akan runtuh begitu berhadapan dengan musuh, dan bahwa kemampuan beradaptasi secara cepat adalah penentu kemenangan yang sesungguhnya. Dari keyakinan inilah ia mengembangkan doktrin auftragstaktik, yakni sebuah sistem di mana seorang komandan hanya memberikan niat strategis yang jelas kepada bawahannya, sementara cara mencapainya diserahkan sepenuhnya pada inisiatif dan penilaian di lapangan. Doktrin ini lahir dari kebutuhan yang nyata karena setelah Prussia dipermalukan oleh Napoleon di awal abad tersebut, pemikir militer mereka menyadari bahwa koordinasi kaku dari pusat komando yang jauh tidak akan mampu merespons kekacauan medan perang yang terus berubah. Dalam Perang Prancis-Jerman tahun 1870, auftragstaktik terbukti menghasilkan kemenangan yang menentukan, khususnya di Pertempuran Sedan. Angkatan Darat Jerman yang bergerak cepat, mengambil keputusan secara desentralisasi, dan mampu berimprovisasi di tengah ketidakpastian, memporak-porandakan musuh yang lebih besar namun lebih kaku. Warisan Moltke bukan sekadar teknik militer, melainkan sebuah filosofi bahwa fleksibilitas bukan pilihan, melainkan prasyarat kemenangan di medan perang.
Doktrin ini mengalami ujian paling keras pada tahun 1946 di Manchuria yang mana pada saat itu, China kembali terjerumus dalam sebuah perang saudara antara dua militer dengan filosofi tempur berbeda. Di satu sisi terdapat Tentara Revolusioner Nasional (NRA) yang dipimpin oleh Generalissimo Chiang Kai-shek dan Partai Kuomintang (KMT). NRA memiliki keuntungan material yang cukup signifikan karena mereka memiliki berbagai unit elit seperti New 1st Army, New 6th Army, 71st Army, dan 101st Army yang dipersenjatai dan dilatih oleh Amerika Serikat. Di sisi lain, terdapat Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang dipimpin oleh Mao Zedong dan Partai Komunis China (PKC) dengan kekuatan yang lebih terbatas namun memiliki doktrin yang cukup fleksibel akibat dari pengalaman mereka dalam melancarkan perang gerilya sejak tahun 1927. Kedua pihak ingin menguasai Manchuria karena wilayah ini memiliki berbagai keuntungan yang sebelumnya tidak dimiliki oleh provinsi lain China seperti jaringan rel kereta api luas, kawasan industri berat di kota besar seperti Shenyang, Harbin, dan Changchun, serta cadangan sumber daya alam yang berlimpah.
Dalam awal kampanye Manchuria, NRA memiliki superioritas total dibandingkan dengan PLA karena mereka memiliki keunggulan kekuatan tembak, logistik, dan peralatan pasukan dengan kualitas relatif lebih baik dibandingkan musuh mereka yang sebagian besar masih menggunakan senapan tua dan rampasan bekas menyerahnya Tentara Kwantung milik Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (IJA) pada 15 Agustus 1945. Akan tetapi, superioritas NRA tidak bisa sepenuhnya mengalahkan pasukan komunis karena struktur komando mereka terlalu terpusat, tidak memberikan ruang bagi bawahan untuk melakukan inisiatif, dan terlalu dipolitisasi sehingga banyak komandan kompeten seperti Sun Li-jen ditugaskan ulang atau dicopot karena alasan sepihak. Di sisi lain, pasukan PLA yang berada di Manchuria dibawah komando Marsekal Lin Biao memiliki strategi pertahanan fleksibel yang bertujuan untuk menggerus kekuatan NRA secara bertahap sebelum mereka melancarkan serangan balasan. Agar hal ini bisa dicapai, Lin Biao mengubah wilayah pedalaman Manchuria menjadi zona komunis sehingga PLA mampu mendapatkan dukungan dari para petani. Dukungan ini digunakan oleh Lin untuk membangun pasukan gerilya dan reguler baru yang dapat menghadapi NRA dalam pertempuran terbuka. Selain itu, Lin juga mendorong bawahannya untuk lebih agresif dalam menyerang posisi pasukan lawan serta mengambil inisiatif jika ada celah dalam garis pertahanan musuh yang dapat dieksploitasi.
Hasil dari strategi ini dapat dilihat saat Kampanye Liaoshen pada Oktober 1948 yang mana pada saat itu, Lin Biao berhasil menipu NRA dengan menyerang Kota Jinzhou terlebih dahulu untuk memutus jalur suplai pasukan NRA di Manchuria. Akibat dari tipuan ini, Jinzhou jatuh dengan waktu singkat dan hal ini memiliki efek berantai yang pada akhirnya menghancurkan unit-unit elit KMT serta kendali Chiang Kai-shek terhadap China. Tidak lama setelah Jinzhou jatuh, kesiapan tempur pasukan NRA di Manchuria mengalami penurunan signifikan karena jumlah makanan, minuman, amunisi, bahan bakar, dan suplai lainnya yang dibutuhkan menjadi lebih terbatas. Pada akhirnya, hal ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kekalahan NRA di Manchuria karena tidak lama setelah kesiapan tempur mereka menurun, PLA melancarkan serangan yang mengepung daerah urban yang dikuasai oleh NRA yakni Shenyang dan Changchun.
Kemenangan ini merupakan contoh nyata dari doktrin Moltke tujuh dekade sebelumnya karena dalam kampanye ini, NRA pada awalnya memiliki keuntungan absolut dalam hal kualitas pasukan, kekuatan tembak, logistik, dan persenjataan. Akan tetapi, sistem militer mereka yang terlalu terpusat serta tidak memberikan kewenangan bagi bawahan untuk melakukan inisiatif menggerus keuntungan absolut ini. Alhasil PLA, walaupun lebih lemah secara material, memiliki fleksibilitas taktis dan dukungan organik dari penduduk setempat yang memitigasi kekurangan logistik. Hal ini menunjukkan bahwa tentara yang mampu belajar, berubah, dan menyesuaikan diri di tengah tekanan tidak akan mudah dikalahkan bahkan jika lawannya memiliki keuntungan material.