Pada 7 Juli 2026, Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT) di Ankara, Turki untuk membahas berbagai isu yang berkaitan dengan pertahanan Eropa dan Amerika Serikat di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks. Dalam KTT tahun ini, isu yang dibahas diantaranya adalah peningkatan investasi pertahanan, peningkatan produksi senjata dan pembukaan ruang inovasi, dan koordinasi pembelian senjata antara negara-negara Eropa. Selanjutnya, para delegasi juga akan membahas bagaimana NATO dapat meningkatkan postur pertahanannya dengan mengembangkan teknologi antariksa, pengawasan, sistem pertahanan udara terintegrasi (IADS), dan kapabilitas serang jarak jauh. Selain itu, terdapat juga pembahasan dalam bagaimana NATO dapat mengintegrasikan perkembangan taktik dan teknologi di Ukraina ke dalam doktrin resmi aliansi untuk mempertahankan kesiapan operasional jika terjadi eskalasi di perbatasan timur.
Tidak lama setelah KTT rampung, Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO Mark Rutte menyampaikan dalam konferensi pers beberapa inisiatif untuk merombak tata kelola industri pertahanan Eropa dan komitmen investasi pertahanan berkelanjutan dengan nilai USD 40 miliar. Dilansir dari SANA, inisiatif dan komitmen ini merupakan respon dari NATO terhadap kritik dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menganggap bahwa Eropa tidak serius dalam mengembangkan pertahannya karena mereka terlalu bergantung kepada Militer AS. Selanjutnya, industri pertahanan Eropa seperti SAAB dan Rheinmetall menandatangani perjanjian produksi senjata bersama dengan perusahaan AS Northrop Grumman dan Lockheed Martin. Selain itu, Menhan Jerman Johann Wadephul mengumumkan bahwa NATO berkomitmen untuk mengirimkan paket bantuan finansial kepada Ukraina dengan nilai sebesar USD 140 miliar. Menurut Menhan Johann, bantuan ini penting karena hal ini dapat meningkatkan kemampuan Militer Ukraina (ZSU) dalam menghadapi gempuran pasukan Rusia di wilayah Donbass.
KTT NATO tahun 2026 memiliki bobot yang lebih signifikan dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya karena aliansi sedang menghadapi berbagai isu seperti AS yang semakin isolasionis dan Eropa yang berusaha untuk membangun ulang kapasitas pertahanan mereka. Menurut analis senior Royal United Service Institute (RUSI) Jack Watling, komitmen finansial yang diberikan oleh negara anggota NATO merupakan upaya untuk memenuhi tuntutan dari pihak AS. Di sisi lain, Presiden Global Policy Institute Paolo von Schirach menyatakan tujuan dari KTT ini adalah untuk memproyeksikan persatuan dengan menunjukkan bahwa NATO, walaupun memiliki perseteruan internal, masih mampu berdiskusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.