Xi Jinping Berkunjung Ke Korea Utara Setelah Tujuh Tahun
Pada 8 Juni 2026, Presiden China dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Komunis China (PKC) Xi Jinping melakukan kunjungan resmi ke Korea Utara untuk membahas peluang kerja sama dalam berbagai sektor dan common interest kedua negara. Dalam kunjungan ini, Presiden Xi ditemani dengan istrinya Peng Liyuan tiba menggunakan pesawat Air China tipe Boeing 747. Setelah tiba, Presiden Xi disambut oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan istrinya Ri Sol Ju. Tidak lama setelah tiba di Pyongyang, Ibukota Korea Utara, Presiden Xi menyatakan bahwa hubungan antara kedua negara saat ini telah memasuki tahapan baru dalam sejarah dunia. Presiden Xi menambahkan bahwa dalam tahapan baru ini, China dan Korea Utara memiliki misi baru. Selain itu Presiden Xi juga menekankan dukungan China terhadap kedaulatan, keamanan, dan perkembangan Korea Utara terlepas dari perkembangan situasi internasional.
Menanggapi perkembangan tersebut, Peneliti Senior dari Foundation for Defense of Democracies Craig Singleton menyatakan kunjungan ini merupakan aksi yang mengingatkan dunia bahwa China masih melihat Korea Utara sebagai salah satu aset geopolitik strategis. Sementara itu, Peneliti Senior dari The Asia Society John Delury menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan upaya Presiden Xi untuk mempertahankan tradisi di tengah perkembangan politik internasional yang telah mengalami perubahan signifikan sejak kunjungan resmi tahun 2019. Di sisi lain, Wion News merilis sebuah artikel yang menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan upaya Presiden Xi untuk menjaga pengaruh China terhadap Korea Utara karena mereka khawatir negara tersebut akan keluar dari lingkup pengaruhnya. Namun menurut Ketua One Korea Center Kwak Gil Sup hal ini kurang memungkinkan untuk terjadi karena Korea Utara tetap perlu menjaga penyelarasan (alignment) dengan China untuk bertahan hidup.
Perkembangan ini merupakan momen bersejarah dalam hubungan China-Korea Utara karena ini merupakan kunjungan resmi pertama Presiden Xi ke negara tersebut sejak tahun 2019. Selain itu, kunjungan resmi ini juga menunjukkan bahwa kedua negara telah memperbaiki hubungan diplomatiknya yang sempat tersendat akibat dari kebijakan larangan berkunjung setelah pandemi COVID-19 bergejolak. Kunjungan ini juga memiliki nilai simbolis karena bertepatan dengan peringatan ke-65 penandatanganan perjanjian persahabatan antara kedua negara.