Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, China menunjukkan langkah yang menarik perhatian. Beijing secara konsisten memperbesar cadangan pangan, energi, dan berbagai komoditas strategis dalam beberapa tahun terakhir. Seperti Impor gandum, kedelai, minyak mentah, hingga logam penting terus meningkat dalam volume besar, bahkan ketika pertumbuhan ekonomi domestik China sedang melambat. Fenomena ini memunculkan spekulasi bahwa China tidak sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi biasa, melainkan sedang mempersiapkan diri menghadapi ketidakstabilan global jangka panjang.
Perhatian dunia terhadap langkah China semakin besar karena pola akumulasi cadangan tersebut terjadi hampir bersamaan dengan memburuknya rivalitas geopolitik antara Beijing dan Barat. Perang Rusia-Ukraina, konflik Timur Tengah, ketegangan Laut China Selatan, serta perang dagang dengan Amerika Serikat membuat pemerintah China semakin sadar bahwa ketahanan nasional tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga kemampuan mempertahankan pasokan pangan dan energi saat krisis global terjadi.
Menurut data resmi General Administration of Customs of China, China tetap menjadi importir kedelai terbesar dunia dengan volume impor lebih dari 100 juta ton per tahun sepanjang 2024-2025. Sebagian besar kedelai tersebut berasal dari Brasil dan Amerika Serikat. Selain itu, impor gandum dan jagung China juga meningkat signifikan dibanding periode sebelum pandemi. Dari sektor energi, China terus memperbesar impor minyak mentah. Data Reuters menunjukkan bahwa impor minyak China pada 2025 mencapai lebih dari 11 juta barel per hari, menjadikan negara tersebut sebagai importir minyak terbesar dunia. Beijing juga memperluas fasilitas penyimpanan minyak strategis serta meningkatkan pembelian gas alam cair Liquefied Natural Gas (LNG) dari Rusia, Qatar, dan negara-negara Timur Tengah.
Bukan hanya pangan dan energi, China juga memperbesar stok berbagai logam strategis seperti tembaga, litium, nikel, dan unsur tanah jarang (rare earth elements). Komoditas tersebut sangat penting untuk industri kendaraan listrik, teknologi pertahanan, semikonduktor, dan transisi energi hijau. Menurut laporan International Energy Agency (IEA), China kini menguasai sebagian besar rantai pasok mineral kritis dunia, termasuk kapasitas pengolahan litium dan rare earth yang mendominasi pasar global.
Fenomena ini tidak dapat dipahami hanya sebagai kebijakan ekonomi biasa. Dalam memahami langkah China, teori Security Dilemma menjelaskan dalam sistem internasional yang penuh ketidakpastian, tindakan suatu negara untuk meningkatkan keamanannya sering kali dilakukan karena rasa takut terhadap ancaman di masa depan. Bahkan ketika perang belum terjadi, negara akan tetap memperkuat kapasitas pertahanan dan ketahanan nasional karena tidak ada jaminan stabilitas global akan bertahan lama.
Maka dari itu, peningkatan stok pangan dan energi China mencerminkan upaya memperkuat national resilience atau daya tahan nasional menghadapi kemungkinan gangguan global. Beijing memahami bahwa ketergantungan tinggi terhadap impor pangan dan energi merupakan titik lemah strategis. Jika terjadi perang besar, blokade perdagangan, atau sanksi ekonomi, maka pasokan kebutuhan domestik China dapat terganggu secara serius. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar karena China saat ini masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi dan pangan tertentu. Negara ini mengimpor sekitar 70 persen kebutuhan minyak mentahnya dari luar negeri. Sebagian besar jalur pasokan energi China juga melewati Selat Malaka, jalur laut strategis yang sangat rentan terhadap konflik geopolitik. Dalam berbagai dokumen strategis, para pejabat China bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai “Malacca Dilemma”.
China juga menghadapi tantangan besar dalam ketahanan pangan. Meski memiliki populasi sekitar 17 persen penduduk dunia, China hanya memiliki kurang dari 9 persen lahan subur global. Karena itu Beijing sangat bergantung pada impor kedelai, gandum, dan pakan ternak untuk menjaga stabilitas pangan domestik. Ketika perang Rusia-Ukraina memicu krisis pangan global pada 2022-2023, pemerintah China semakin mempercepat kebijakan penumpukan cadangan strategis.
Dalam laporan USDA Foreign Agricultural Service, China diperkirakan menguasai lebih dari 50 persen stok gandum dan jagung dunia pada pertengahan dekade 2020-an. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding proporsi konsumsi domestiknya sendiri. Dalam langkah ini menunjukkan bahwa Beijing ingin memastikan pasokan pangan tetap aman meskipun rantai pasok global terganggu dalam waktu panjang.
Dalam perspektif teori Security Dilemma, langkah China sebenarnya dapat memicu kecemasan negara lain. Ketika Beijing membeli komoditas dalam jumlah sangat besar, harga global dapat meningkat dan menciptakan kekhawatiran bahwa China sedang mempersiapkan skenario konflik jangka panjang. Akibatnya, negara-negara lain juga terdorong memperbesar cadangan mereka sendiri, sehingga kompetisi perebutan sumber daya global semakin tajam.
Kemudian. negara-negara Barat mulai mempercepat diversifikasi rantai pasok untuk mengurangi ketergantungan terhadap China. Amerika Serikat dan Uni Eropa meningkatkan investasi di sektor mineral kritis, membangun cadangan strategis baru, serta memperkuat kerja sama dengan negara-negara penghasil bahan mentah seperti Australia, Kanada, dan negara-negara Afrika. Di sisi lain, China terus memperluas pengaruhnya melalui diplomasi sumber daya. Beijing meningkatkan investasi di sektor pertambangan Afrika, memperkuat hubungan energi dengan Rusia dan Timur Tengah, serta memperbesar proyek infrastruktur dalam kerangka Belt and Road Initiative (BRI) untuk mengamankan jalur perdagangan internasionalnya.
Namun demikian, langkah China juga mencerminkan kenyataan bahwa dunia sedang memasuki era ketidakpastian geopolitik yang semakin tinggi. Sejak pandemi COVID-19, perang Ukraina, konflik Timur Tengah, dan rivalitas AS-China menunjukkan bahwa globalisasi tidak lagi menjamin stabilitas pasokan internasional. Dalam situasi seperti ini, banyak negara mulai kembali memprioritaskan ketahanan nasional dibanding efisiensi ekonomi global.
Masalahnya, penumpukan cadangan strategis dalam skala besar juga dapat memperburuk ketidakstabilan ekonomi dunia. Ketika negara-negara besar berlomba mengamankan stok pangan, energi, dan mineral, maka harga global cenderung meningkat dan memicu tekanan inflasi internasional. Negara-negara berkembang yang memiliki daya beli lebih rendah berpotensi menjadi korban paling terdampak. Maka demikian, langkah diam-diam China memperbesar stok pangan dan energi strategis menunjukkan bahwa Beijing sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia yang semakin tidak stabil. Ini bukan sekadar soal kebutuhan ekonomi domestik, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan ketahanan nasional di tengah rivalitas geopolitik global yang terus meningkat.