Pada 19 Mei 2026, CEO Mercedes-Benz Ola Källenius menyatakan kepada kanal media Wall Street Journal (WSJ) bahwa mereka saat ini sedang melakukan peninjauan untuk memperluas bisnis ke sektor pertahanan dengan memproduksi persenjataan. Ola menambahkan saat ini dunia sedang menghadapi gejolak sehingga wajar saja jika Mercedes-Benz berkontribusi untuk memperkuat postur pertahanan Uni Eropa (EU) guna menghadapi ancaman eksternal. Namun Ola menekankan bahwa keputusan ini akan bergantung pada faktor keuntungan yang bisa didapatkan oleh Mercedes-Benz jika mereka memutuskan untuk memproduksi peralatan militer. Selain itu, Ola juga menyatakan bahwa dalam konteks bisnis keseluruhan Mercedez-Benz, produksi persenjataan akan menjadi sektor minoritas yang memiliki potensi untuk dikembangkan guna meningkatkan pendapatan.
Mercedes-Benz merupakan perusahaan yang tidak asing dengan sektor pertahanan karena sebelum EU memutuskan untuk membangun ulang postur pertahanan, perusahaan ini telah terlibat dalam produksi beberapa mobil sipil yang dapat diubah menjadi kendaraan milter. Mercedez-Benz juga telah memproduksi berbagai tipe truk kargo seperti Zetros, Arocs 6×6, SUV tipe G, dan truk segala medan Unimog yang telah digunakan oleh Militer Prancis, Jerman (Bundeswehr), dan Lithuania. Dalam tinjauan ekspansi ini, Mercedes-Benz ingin meningkatkan ketahanan dan efektivitas kinerja truk militer mereka dengan cara memproduksi varian yang dapat diintegrasikan sebagai pengendali drone swarm. Untuk mencapai tujuan ini, Mecedes-Benz telah menjalin kerja sama dengan Quantum Systems untuk merancang perangkat lunak yang dibutuhkan.
Keinginan Mercedes-Benz untuk berkontribusi dalam membangun postur pertahanan Eropa merupakan bagian dari perubahan tren perusahaan industri berat Jerman yang saat ini sedang melakukan aksi serupa sebagai dampak dari invasi Rusia terhadap Ukraina. Invasi tersebut menjadikan Jerman dan EU melakukan berbagai upaya untuk membangun ulang postur pertahanan Eropa yang lama tergerus akibat dari era peace dividend. Salah satu dari upaya tersebut adalah dengan meningkatkan anggaran pertahanan dan memberikan insentif bagi perusahaan kelas berat seperti KNDS dan Rheinmetall untuk membangun ulang kapasitas industri pertahanan. Alhasil, perusahaan tersebut memutuskan untuk membuka ulang pabrik yang sebelumnya sudah ditutup karena dari kalkulasi bisnis mereka, hal ini dapat memberikan keuntungan baru yang sebelumnya sulit didapatkan akibat dari berbagai faktor seperti kompetisi sengit.