Pada 18 Mei 2026, Angkatan Bersenjata Ukraina (ZSU) merilis sebuah video di kanal media X/Twitter dan Telegram yang menunjukkan sebuah drone penyerang jarak jauh tipe FP-2 yang dilengkapi dengan peluncur roket menyerang instalasi militer Rusia di Semenanjung Krimea. Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh ZSU, drone yang dilengkapi dengan peluncur roket ini memiliki tugas untuk menghantam persenjataan anti udara, tim rudal pertahanan udara jarak dekat (MANPADS), posisi senapan mesin berat, dan fasilitas komunikasi Armada Laut Hitam. Tidak lama setelah serangan roket rampung, drone kamikaze yang ditugaskan untuk menghantam target strategis berhasil menembus pertahanan udara Rusia dan menghantam sasaran yang diinginkan.
Dilansir dari Euromaidan, Komandan Matra Sistem Nirawak (USF) ZSU Mayor Robert ’Magyar’ Brovdi menyatakan bahwa saat ini tidak ada pesawat tempur atau helikopter yang mampu melewati lapisan pertahanan udara yang dimiliki oleh Rusia di Semenanjung Krimea. Robert menambahkan oleh karena itu, ZSU menggunakan drone sebagai alternatif untuk menghantam target strategis sekaligus menggerus kapabilitas pertahanan udara yang ditempatkan untuk melindungi aset tersebut. Robert juga mengklaim bahwa keberadaan drone penembak roket memberikan dampak psikologis bagi pengguna sistem pertahanan udara Rusia karena mereka ragu menyalakan radar akibat dari keberadaan drone. Sementara itu, Kepala Desainer Fire Point, perusahaan drone Ukraina yang memproduksi FP-2, Denys Shtilierman menyatakan bahwa serangan terhadap Krimea juga telah berhasil menghantam sebuah kapal patroli tipe Proyek 10410. Shtilierman menambahkan bahwa drone FP-2 yang digunakan untuk operasi ini mampu menembak roket dengan akurasi relatif tinggi karena senjata ini memiliki fungsi first person view (FPV).
Sejak Rusia melancarkan invasi terhadap Ukraina pada 24 Februari 2022, ZSU telah melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan drone untuk mengimbangi kekuatan di medan pertempuran. Upaya tersebut menghasilkan berbagai senjata yang dikategorikan sebagai drone maritim, drone penyerang jarak jauh, dan drone pencegat udara. Akibat dari upaya ini, Ukraina berhasil mengimbangi kekuatan di medan pertempuran sekaligus melancarkan serangan terhadap aset strategis Rusia secara berkelanjutan.