Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral di Beijing pekan ini dengan membahas sejumlah isu strategis global, mulai dari Taiwan, Iran, kecerdasan buatan (AI), hingga perdagangan dan senjata nuklir. Pertemuan tersebut menjadi tatap muka pertama kedua pemimpin dalam lebih dari enam bulan terakhir, sekaligus momentum penting untuk meredakan ketegangan hubungan Washington-Beijing yang dalam beberapa tahun terakhir memanas akibat perang dagang dan rivalitas geopolitik.
Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu, 13 Mei 2026, untuk menjalani kunjungan resmi selama dua hari hingga Kamis, 14 Mei 2026. Kunjungan ini menjadi lawatan pertamanya ke China sejak terakhir kali berkunjung pada 2017 saat masih menjabat Presiden Amerika Serikat periode pertama. Salah satu agenda utama pembicaraan adalah perdagangan dan pasokan mineral tanah jarang atau rare earth. Amerika Serikat dan China disebut tengah membahas kemungkinan memperpanjang gencatan perang dagang yang selama ini menjaga aliran rare earth China ke industri teknologi dan manufaktur AS.
Selain itu, kedua negara diperkirakan membahas pembentukan forum baru bernama Board of Trade dan Board of Investment guna mempermudah investasi serta perdagangan bilateral. China juga diperkirakan akan meningkatkan pembelian produk Amerika seperti pesawat Boeing, energi, dan komoditas pertanian. Di luar ekonomi, isu Iran menjadi perhatian utama Washington. Pemerintahan Trump mendorong Beijing menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk membantu meredakan konflik yang meningkat setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu.
Sementara itu, Taiwan kembali menjadi titik sensitif dalam hubungan kedua negara. China terus menegaskan klaimnya atas Taiwan dan meningkatkan aktivitas militernya di sekitar pulau tersebut. Namun, pejabat AS menegaskan dukungan Washington terhadap Taiwan tidak berubah. Persaingan teknologi juga diperkirakan menjadi pembahasan penting, terutama terkait perkembangan AI China yang dinilai semakin maju. Kedua negara disebut ingin membuka jalur komunikasi khusus guna mencegah konflik terkait penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
Washington juga kembali mencoba membuka dialog pengendalian senjata nuklir dengan Beijing, meski China disebut belum bersedia membahas kapasitas arsenal nuklirnya secara terbuka.