Dalam kajian atau diskusi tentang Perang Korea, terdapat sebuah pandangan yang hingga saat ini tertanam bahwa Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China melancarkan serangan gelombang manusia terhadap pasukan koalisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pandangan ini ada dan bertahan karena beberapa faktor yakni komunikasi pasukan PBB yang secara konsisten menyebutkan gempuran PLA sebagai serangan gelombang manusia dan persepsi bahwa tentara komunis China pasca perang dunia kedua merupakan militer dengan organisasi buruk, taktik terbelakang, serta memiliki logistik kurang memadai. Citra ini, merupakan distorsi sejarah yang cukup disayangkan karena pandangan tersebut menggerus kemungkinan riset komprehensif tentang bagaimana China berhasil mengusir pasukan PBB dari Korea Utara dan menciptakan kondisi stalemate di semenanjung tersebut.
Untuk menjelaskan mengapa hal ini merupakan mitos, kita harus mengetahui latar belakang dan taktik yang digunakan oleh PLA sejak Era Panglima Perang dan Perang Sino-Jepang Kedua. Dalam kedua konflik ini, PLA dihadapi dengan realita bahwa musuh mereka seperti rezim Generalissimo Chiang Kai Shek di Nanjing, Panglima Perang Yan Xishan di Shanxi, dan Kekaisaran Jepang memiliki keuntungan absolut dalam hal jumlah pasukan, kekuatan tembak, logistik, dan kekuatan industri. Untuk menghadapi realita ini, PLA beradaptasi dengan membangun doktrin dan sistem yang bertujuan untuk memitigasi keuntungan absolut yang dimiliki oleh lawan mereka. Kedua hal tersebut diformalkan oleh Marsekal Lin Biao sebagai 3-3 system dan 1 point 2 faces. Dalam 3-3 system, PLA mengadopsikan sistem ‘segitiga’ yang mana setiap regu yang terdiri dari 9-10 prajurit dipecah menjadi tim yang dapat berperan sebagai penyerang, penjaga, atau pemberi tembakan bantuan. Sistem ini pada akhirnya berkembang menjadi standar yang mendasari pembentukan unit baru dari level regu hingga korps. Sementara itu, doktrin 1 point 2 faces menekankan infiltrasi, eksploitasi, kamuflase, menghindari pertempuran dalam jarak menengah (150-200m), desentralisasi komando, dan tipu muslihat (deception). Dalam doktrin ini, satu tim infanteri PLA akan berusaha untuk menyusup garis pertahanan musuh secara diam-diam sementara dua tim lainnya akan melindungi upaya penyusupan tersebut dengan menarik perhatian musuh. Agar doktrin ini dapat digunakan secara efektif, Marsekal Lin Biao menggagas prinsip 4 quick 1 slow yang menekankan perencanaan komprehensif dan serangan agresif berkelanjutan untuk menghancurkan kekuatan tempur pasukan musuh sekaligus mengurangi korban jiwa PLA.
Secara sekilas, doktrin 1 point 2 faces yang digunakan oleh PLA memiliki kemiripan dengan doktrin pasukan penyerbu (sturmtruppen) yang digunakan Tentara Kerajaan Jerman dalam Perang Dunia 1 karena terdapat beberapa elemen serupa seperti eksploitasi berkelanjutan, desentralisasi komando, serta kamuflase dan inflitrasi. Efektivitas dari doktrin ini dapat dilihat saat Kerajaan Jerman melancarkan Kaiserschlact, sebuah pertempuran menentukan yang bertujuan untuk mengakhiri perang dalam kondisi menguntungkan, pada 21 Maret 1918. Dalam pertempuran ini, para sturmtruppen dengan bantuan artileri berhasil menerobos garis pertahanan pasukan Entente dengan menggunakan taktik penyusupan dan eksploitasi agresif. Sementara itu bagi PLA, efektivitas doktrin mereka dapat dilihat saat pertempuran Sungai Chongchon terjadi pada 25 November 1950. Dalam pertempuran ini, salah satu regu PLA dari Resimen Infanteri 234 yang dipimpin oleh Sersan Lei Baosen dengan 9 prajurit berhasil menghancurkan 10-12 tank Amerika Serikat dari Divisi Infanteri 3 menggunakan roket, granat, bom Molotov, dan ranjau yang dimodifikasi. Sementara itu unit lain yang berada di Bendungan Chosin, Kunu-Ri, dan Unsan berhasil mematahkan pertahanan pasukan PBB yang terdiri dari militer Amerika Serikat, Korea Selatan, Turki, dan Inggris Raya.
Dalam seluruh pertempuran ini, terdapat pola konsisten yang terjadi antara PLA dan koalisi PBB yakni sebuah kompi atau regu China tiba-tiba muncul di depan parit atau lubang perlindungan (foxhole) pasukan koalisi dan secara serentak menerobos garis pertahanan menggunakan senapan pucuk, pisau (bayonet), dan terkadang artileri ringan. Setelah serangan awal menerobos garis pertahanan pasukan PBB, unit PLA setempat menggunakan keunggulan lokal untuk mengeksploitasi terobosan. Hal ini menggerus kohesi pasukan PBB untuk bertempur secara efektif karena infanteri yang mengeksploitasi terobosan, selain menghancurkan komunikasi antara unit Amerika Serikat dan Korea Selatan yang terlibat dalam pertempuran, juga mengepung berbagai unit yang terjebak akibat dari serangan infiltrasi awal.
Metode ini menyebabkan media barat untuk mengkategorikan aksi PLA sebagai ‘serangan gelombang manusia’ karena berdasarkan wawancara dan pernyataan dari prajurit pasukan PBB, serangan China datang secara tiba-tiba di malam hari dengan jumlah tidak terduga menggunakan bayonet dan persenjataan jarak dekat lainnya. Akan tetapi, berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat dilihat bahwa pernyataan yang diberikan oleh para prajurit PBB keliru karena keuntungan jumlah yang diasumsikan (10:1) oleh mereka tidak pernah ada. Pandangan tersebut hanya ada karena serangan yang dilancarkan PLA bersifat cepat, brutal, dan didesain untuk menyulitkan musuh dalam mengukur kekuatan tempur mereka.