Penulis: M. Asdar Prabowo
Memasuki awal 2026, ketegangan keamanan di Asia Timur kembali mengemuka seiring digelarnya latihan militer China di sekitar Selat Taiwan. Hal ini menandakan bahwa dinamika global semakin tegang karena kemudian menjadi berita keamanan regional. Melalui pemerintahnya, China menegaskan bahwa latihan yang dilakukan merupakan simbol ketegasan dalam upaya menjaga kedaulatan dan integritas territorialnya, khususnya dalam menghadapi ancaman separatism dan intervensi pihak asing yang memasuki wilayahnya. Ini merupakan manuver tentang eskalasi konflik yang dapat berpotensi memicu konflik terbuka.
Selat Taiwan merupakan simpul geopolitik global, memiliki pengaruh yang vital dalam jalur perdagangan global, terutama sebagai pusat industri semikonduktor strategis. Sehingga Selat Taiwan bukan semata pemisah antara daratan China dan Pulau Taiwan melainkan arena pertarungan pengaruh kekuatan besar. Sejak perang saudara 1949, Taiwan dan China daratan terpisah secara pemerintahan. Kemudian Beijing menentang kontak resmi negara asing dengan menyatakan kedaulatan China atas Taiwan tidak dapat diganggu gugat, sementara pemerintah Taiwan menegaskan status otonom tanpa mendeklarasikan kemerdekaan formal secara sepihak di tengah tekanan regional.
Dalam konteks tersebut, Latihan militer China mulai dari simulasi blokade laut dan udara, patroli udara intensif, hingga pengerahan armada laut menunjukkan peningkatan kualitas dan kompleksitas operasi. Beijing menyebut aktivitas ini sebagai latihan rutin dan defensif. Namun dalam politik internasional, niat suatu negara jarang diterima secara tunggal. Persepsi pihak lain sering kali justru menjadi faktor penentu arah eskalasi.
Security Dilemma dan Spiral Ketegangan di Selat Taiwan
Dalam perspektif realisme, security dilemma menjelaskan situasi pada saat langkah suatu negara untuk meningkatkan keamanannya justru dipersepsikan sebagai ancaman oleh pihak lain, sehingga memicu reaksi balasan yang berujung pada spiral ketegangan. Konsep ini diperkenalkan oleh John H. Herz, yang menekankan bahwa konflik sering kali terjadi bukan karena niat agresif semata, melainkan karena ketidakpastian dan ketidakpercayaan antaraktor. Dalam konteks Selat Taiwan, China memandang penguatan militernya sebagai langkah defensif. Beijing menilai dukungan politik dan militer Amerika Serikat kepada Taiwan termasuk penjualan senjata dan peningkatan interaksi pejabat sebagai ancaman terhadap prinsip “Satu China”. Dari sudut pandang ini, latihan militer berfungsi sebagai pesan pencegahan (deterrence) agar Taiwan tidak melangkah menuju kemerdekaan formal.
Sebaliknya, Taiwan dan sekutunya memaknai latihan tersebut sebagai persiapan konflik. Simulasi blokade laut dan udara menimbulkan kekhawatiran bahwa China sedang menguji skenario isolasi Taiwan secara militer. Persepsi ini mendorong Taiwan memperkuat pertahanan dan memperdalam kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat dan mitra regional lainnya. Alhasil, apa yang diniatkan sebagai upaya menjaga stabilitas justru memicu siklus saling curiga yang semakin sulit dikendalikan. Dalam logika security dilemma, kedua pihak merasa bertindak defensif, tetapi tindakan masing-masing justru memperbesar rasa tidak aman pihak lain. Situasi ini menciptakan ketegangan yang terus berulang tanpa perlu adanya niat perang yang eksplisit.
Militer sebagai Pesan Politik dan Taruhan Perdamaian Regional
Latihan militer China juga perlu dibaca sebagai bahasa politik. Dalam sistem internasional yang anarkis, kekuatan militer tidak hanya digunakan untuk berperang, tetapi juga untuk membentuk persepsi, menunjukkan tekad, dan memengaruhi kalkulasi strategis pihak lain. Secara internal, latihan tersebut memperkuat legitimasi politik Partai Komunis China sebagai penjaga kedaulatan nasional. Isu Taiwan memiliki nilai simbolik yang sangat tinggi dalam politik domestik China dan merupakan kepentingan nasional inti (national core interest) China, sehingga sikap tegas terhadap Taiwan sering diterjemahkan sebagai bentuk nasionalisme dan konsistensi ideologis negara.
Kemudian secara eksternal, latihan itu menjadi sinyal bahwa China siap menanggung biaya tinggi demi mempertahankan klaim teritorialnya. Namun dalam kerangka security dilemma, sinyal kekuatan ini justru memperkeras sikap lawan. Negara lain tidak pernah sepenuhnya yakin apakah kekuatan tersebut akan digunakan secara defensif atau ofensif. Dampak dari eskalasi ini tidak berhenti di Selat Taiwan. Asia Timur merupakan kawasan dengan jaringan aliansi yang kompleks. Jepang, Korea Selatan, negara-negara ASEAN, hingga Australia memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan. Setiap peningkatan ketegangan China–Taiwan secara otomatis memengaruhi kalkulasi keamanan mereka.
Bagi ASEAN, khususnya, ketegangan di Selat Taiwan menghadirkan dilema strategis. Di satu sisi, China adalah mitra ekonomi utama. Di sisi lain, konflik terbuka akan mengganggu jalur perdagangan dan stabilitas regional. Karena itu, banyak negara Asia Tenggara memilih pendekatan ambigu dalam artian menyerukan de-eskalasi tanpa secara terbuka memihak salah satu pihak. Dalam perspektif security dilemma, situasi ini berbahaya karena semakin banyak aktor yang terlibat, semakin besar pula potensi salah perhitungan (miscalculation). Sejarah hubungan internasional menunjukkan bahwa perang sering kali meletus bukan karena satu keputusan rasional tunggal, melainkan akumulasi kesalahpahaman dan reaksi berantai yang tak terkendali.
Latihan militer China di Selat Taiwan menunjukkan bagaimana keamanan, persepsi, dan politik saling terkait erat dalam hubungan internasional. Melalui kacamata security dilemma, terlihat bahwa ancaman terbesar bagi perdamaian bukan semata niat agresif, melainkan kegagalan memahami bagaimana tindakan suatu negara dibaca oleh pihak lain. Selat Taiwan kini berada di ujung tanduk perdamaian, bukan hanya karena kekuatan militer yang saling berhadapan, tetapi karena rapuhnya kepercayaan antaraktor. Jika spiral ketegangan ini dibiarkan, Asia Timur berisiko menjadi titik api konflik global berikutnya. Namun jika para aktor utama mampu menahan diri dan membuka kembali ruang dialog, Selat Taiwan masih dapat menjadi simbol keseimbangan, bukan konfrontasi.